Hal ini disampaikan Ketua Umum DPP Dewan Tani Indonesia Ferry Joko Juliantono dalam seminar 'Swasembada Kedelai: Harapan dan Solusi' di Hotel Sofyan, Cikini, Jakarta, Selasa (30/6/2009).
"Bulog harus difungsikan kembali menjadi stabilisator harga dan juga menjadi penyangga dengan membeli komoditi kedelai dari petani, " ujar Ferry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan begitu mudah-mudahan swasembada kedelai bisa dilakukan," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Kacangan-kacangan dan Umbi-umbian Deptan, Muchlizar Murkan mengakui, petani memang tidak mau menanam kedelai karena sering kali merasa rugi. Berdasarkan data Deptan, saat ini angka produksi kedelai di Indonesia baru mencapai 922 ribu ton
"Karena harga murah petani malas menanam," ungkapnya.
Untuk itu diperlukan keseimbangan harga, agar petani yang menanam kedelai untung. "Dengan harga bagus maka akan memacu petani untuk menanam kedelai," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Perum Bulog, Mustafa Abu Bakar menyatakan pihaknya siap jika diberikan tugas untuk kembali menjadi stabilitas harga kedelai. "Kami siap, tapi itu tergantung dari
penugasan pemerintah. Jadi kalau ditugaskan kami siap," tegas Mustafa.
Namun Mustafa menyatakan jika hal ini ditugaskan ke Bulog, maka akan ada konsekusensi anggaran yang besar.
"Bulog perlu persiapan didalam selain memperjuangkan anggaran di APBN," ungkapnya.
(epi/lih)











































