"Last minute kami mundur karena keekonomiannya nggak masuk. Karena skema yang digunakan service contract. Tidak hanya Pertamina saja yang mundur, yang lain juga. Karena tidak masuk keekonomian mereka," kata Direktur Usaha Internasional Pertamina Hulu Energy, Dwi Martono ketika dihubungi detikFinance, Rabu (1/7/2009).
Skema service contract memang berbeda dengan Production Sharing Contract (PSC) yang berlaku di Indonesia. Dengan service contract, kontraktor hanya akan dibayar berdasarkan berapa banyak minyak yang bisa diproduksinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya diberitakan, pemerintah Irak memang menyerahkan pengelolaan ladang minyak Rumaila pada BP dan CNPC International Ltd. Kedua perusahaan minyak raksasa dari Inggris dan China itu sepakat untuk menerima harga US$ 2 per barel. Rumaila merupakan ladang minyak raksasa dengan cadangan 17,7 juta barel yang terletak di Selatan Irak dan diperkirakan bisa berproduksi 1,02 juta barel per hari.
Dalam kontrak jasa yang ditawarkan Irak, didasarkan pada kesediaan perusahaan minyak untuk menerima fee tetap per barel minyak yang berhasil mereka ekstraksi dari 6 ladang minyak. Pemerintah Irak tidak menawarkan kepemilikan saham.
Perdebatan sudah muncul sejak awal penawaran karena perusahaan-perusahaan minyak asing itu harus menggandeng BUMN perminyakan Irak dan pembagian manajemen di ladang minyak, disamping pembiayaan penuh untuk pengembangannya.
Harga yang ditawarkan pemerintah Irak juga dinilai terlalu rendah. CNOOC dan Sicopec menginginkan US$ 24,40 per barel untuk minyak yang diekstraksi di ladang Maysan, namun Irak hanya menawari mereka US$ 2,30 per barel.
ConocoPhillips meminta US$ 26,70 per barel untuk ladang Bai Hassan, namun Irak hanya menawarkan US$ 4 per barel. Sementara konsorsium yang berisi Eni, Medio Orient SpA, Occidental Petroleum dan Kogas memilih menarik penawarannya di ladang Zubair. Konsorsium itu minta harga US$ 4,80 per barel, namun Irak hanya memberikan US$ 2 per barel.
Untuk ladang minyak di Mansuriya tidak ada yang menawar, sedangkan 2 ladang gas yang ditawar Edison SpA gagal.
Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki dalam sesi pembukaan tender menyatakan, negaranya membutuhkan uang dari minyak untuk membangun kembali negara tersebut setelah terus menerus didera perang.
Menteri Perminyakan Irak, Hussein al-Shahristani membantah negaranya gagal membuat penawaran tender. Menurutnya, tujuan dari tender ini adalah utnuk meningkatkan produksi dari 2,4 juta menjadi 4 juta barel per hari dalam 5 tahun ke depan.
"Saya sangat senang karena Rumaila yang akan diproduksi lebih dari 4 juta barel per barel," ujarnya seperti dikutip dari AFP, Rabu (1/7/2009).
Sebanyak 31 perusahaan minyak raksasa sebelumnya mengikuti tender di Irak. Mereka adalah:
- BHP Billiton Petroleum Pty Ltd.(Australia)
- BP Exploration Operating Co. (Inggris)
- Chevron Corp. (AS)
- CNOOC Ltd. (China)
- CNPC International Ltd. (China)
- ConocoPhillips (AS)
- Edison SpA (Italia)
- Eni Medio Oriente SpA (Italia)
- ExxonMobil Iraq Ltd. (AS)
- Hess Corp. (AS)
- INPEX Corp. (Jepang)
- Japex (Japan Petroleum Exploration Co., Ltd.) (Jepang)
- JSC Gazprom Neft R(Rusia)
- Korea Gas Corp. (Kogas) (Korsel)
- JSC Lukoil (Rusia)
- Maersk Olie og Gas AS (Denmark)
- Marathon International Petroleum Turquesa Ltd. (AS)
- Nexen Inc. (Kanada)
- Nippon Oil Corp. Japan
- Occidental Petroleum Corp. (AS)
- ONGC Videsh Ltd. (India)
- PT Pertamina (Persero) (Indonesia)
- PETRONAS Carigali Sdn Bhd (Malaysia)
- Repsol Exploracion SA (Spanyol)
- Shell (Inggris-Belanda)
- Sinochem Corp. (China)
- Sinopec International Petroleum (China)
- StatoilHydro ASA (Norwegia)
- Total SA (Perancis)
- Turkish Petroleum Corp. (TPAO) (Turki)
- Woodside Petroleum Ltd. (Australia).
(lih/dnl)











































