Hal ini disampaikan, Presiden Direktur AKR Corporation, Haryanto Adikoesoemo di sela-sela acara 'Peran penting wirausahawan di saat krisis' Ernest and Young di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (1/7/2009).
"Iya, kita selalu berkompetisi sampai last minute tapi akhirnya Pertamina juga yang menang," ungkap Haryanto.
Menurut Haryanto, sudah waktunya swasta nasional untuk masuk dalam pendistribusian BBM bersubsidi untuk membangun kapasitas dan kapabilitas perusahaan swasta nasional.
"Ini semua tergantung political will dari pemerintah. Karena suatu hari nanti, pendistribusian BBM akan dibuka untuk swasta nasional maupun asing. Jadi kalau pemerintah bisa develop capacity dan capability dari swasta nasional ini akan baik dan menguntungkan pemerintah/Indonesia di kemudian hari kalau market udah dibuka," katanya.
Haryanto juga menilai jika pendistribusian BBM PSO ini diserahkan ke swasta maka akan ada penghematan subsidi yang cukup signifikan di APBN pemerintah. "Karena alphanya akan lebih kompetitif dari alpha yang diminta oleh Pertamina. Jadi secara otomatis akan penghematan yang signifikan," ungkapnya.
Penghematan tersebut, lanjut Haryanto, dapat dialokasikan untuk menciptakan lapangan kerja yang ujungnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pada kesempatan yang sama, Haryanto menegaskan AKR siap jika terpilih menjadi distributor BBM bersubsidi tahun depan, bahkan jika harus mendistribusikan BBM bersubsidi tersebut hingga daerah terpencil.
"Kita sudah siap. Di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan, kita sudah cukup bagus networknya. Jadi tidak masalah kalau ditempatkan di luar Jawa," ungkapnya.
Haryanto memaparkan untuk mendukung pendistribusian tersebut, pihaknya telah menyiapkan berbagai infrastruktur seperti tank terminal,burges (tongkang) untuk pengangkutan, serta storage-storage. "Itu semua kami siapkan di daerah pedalaman yang dekat dengan tambang-tambang di Kalimantan seperti di Pontianak, Pulau Laut, Sangata, Banjarmasin. Sedangkan di Sumatera yaitu di Medan, Palembang, dan Lampung," tandasnya.
Haryanto menjelaskan untuk pasokan BBM, pihaknya mengimpornya langsung dari Singapura. Untuk tahun ini, AKR berencana mengimpor sekitar 6-7 juta barel BBM jenis solar dan MFO.
"Untuk semester I ini impor solar dan MFO yang kami lakukan diperkirakan
mencapai 2,5-2,6 juta barel," ungkapnya.
(epi/lih)











































