Volume perdagangan di negara-negara berkembang yang semula diperkirakan hanya akan minus 2-3 persen kini diproyeksi bakal terpuruk hingga minus 7 persen. Kondisi di negara maju bahkan lebih parah karena semula diperkirakan hanya anjlok 10 persen, kini diprediksi akan terporsok lebih dalam menjadi minus 14 persen.
Berdasarkan laporan WTO, revisi proyeksi ini dilakukan berdasarkan kondisi 3 bulan terakhir dimana banyak negara yang mulai memperlihatkan gejala-gejala proteksionisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan itu juga mencatat, meskipun tidak memperhitungkan dampak flu burung, saat ini memang banyak kendala-kendala dalam perdagangan liberal.
Namun pengetatan yang dilakukan sejumlah negara terkait pandemik virus H1N1 memang menjadi faktor yang dominan dalam pengetatan aktivitas ekspor impor, terutama yang berhubungan dengan negara-negara yang positif flu burung.
"Memburuknya pandemik virus H1N1 juga bisa menciptakan risiko yang lebih besar dalam pemulihan ekonomi global," tambah laporan tersebut.
Faktor lain yang menurut WTO berpengaruh pada anjloknya pertumbuhan perdagangan adalah program stimulus yang gencar dikucurkan sejumlah negara. Sayangnya, karena keterbatasan akses, WTO tidak bisa mengukur sejauh mana program stimulus ini berpengaruh terhadap distorsi pasar dan kompetisi. (lih/qom)











































