Pasar Basah Masih Eksis di Produk Segar

Pasar Basah Masih Eksis di Produk Segar

- detikFinance
Kamis, 02 Jul 2009 12:02 WIB
Pasar Basah Masih Eksis di Produk Segar
Jakarta - Pasar basah (pasar tradisional) masih mendominasi penjualan produk segar bagi konsumen Indonesia. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi pasar basah karena setengah dari anggaran belanja konsumen biasanya lari ke produk segar.

Demikian hasil riset AC Nielsen yang dipaparkan Associate Director, Retailer Service The Nielsen Company Indonesia, Febby Ramaun di kantornya, Mayapada Tower, Kamis (2/7/2009).

"Kalau satu keluarga belanja Rp 500 ribu per bulan dikalikan jumlah keluarga di Indonesia, ini peluang bagi pasar basah. Jadi kalau dibilang pasar basah mati karena adanya pasar modern itu salah," kata Febby.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan hasil penelitian Nielsen, hingga saat ini masyarakat yang berdomisili di Jadetabek masih lebih suka membeli produk segar seperti sayur, dagung, dan ikan di pasar basah.

"Saat konsumen di Jadetabek ditanya mereka membeli sayur, daging atau ikan dimana? Sebagian besar dari mereka menjawab di wet market, yang di pasar modern masih kecil. Meskipun yang belanja melalui gerobak sayur juga meningkat," paparnya.

Survey tersebut juga menyebutkan 62 persen konsumen Jadetabek memilih untuk berbelanja daging di pasar basah dan hanya 11 persen yang belanja di pasar modern. Sedangkan untuk berbelanja ikan, sekitar 53 persen konsumen membelinya di pasar basah dan hanya 7 persen yang berbelanja ke pasar modern.

Namun untuk pembelian sayur, pembelanjaan di gerobak sayur meningkat dari 18 persen ke 20 persen, pasar tradisional menurun dari 38 persen ke 36 persen, dan pasar modern turun dari 12 persen ke 9 persen.

"Pembelanjaan sayur, daging dan ikan di Bandung juga semakin kuat di pasar tradisional, dari rata-rata 50 persen ke 60 persen konsumen memilih belanja dipasar tradisional. Sementara dipasar modern turun hanya menjadi 4 persen," jelasnya.

Menurut Febby, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di China, meskipun kontribusi pasar modern cukup tinggi hingga sebesar 56 persen, tetap saja 82 persen konsumen masih membeli sayur di pasar basah, 66 persen konsume membeli lebih memilih membeli ikan di pasar basah dan 50 persen konsumen di China juga masih membeli ikan di pasar basah.

"Jadi pasar basah masih menjadi tempat utama berbelanja kebutuhan pangan bagi orang Asia termasuk Indonesia," ungkapnya.

Melihat besarnya peluang tersebut, lanjut Febby, sebaiknya dilakukan berbagai perbaikan-perbaikan untuk mengembangkan pasar basah ini. Menurut Febby, jika selama ini yang pasah basah itu identik dengan jorok, becek dan bau, image itu harus diperbaiki menjadi tempat berbelanja yang bersih dan segar.

"Jika selama ini pedagang hanya product oriented sekarang harus diubah menjadi market atau consumer oriented sehingga pedagang harus memikirkan pembeli ini lagi butuh apa ya?" jelasnya.

Febby menambahkan yang membuat putusnya hubungan konsmen dengan pasar basah bukanlah pasar modern, namun konsumen itu sendiri.

"Pemerintah, peritel dan pemasok tidak dapat mengatur kemana konsumen membelanjakan uangnya. Berfokuslah pada konsumen, berikan kebutuhan dan keinginan mereka," tandasnya.

(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads