Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, secara logikanya harga minyak dunia memang tidak dikontrol pemerintah, namun dikontrol oleh kekuatan internasional.
Dalam keadaan resesi yang belum pulih seperti ini, seharusnya permintaan terhadap minyak belum tinggi sehingga harga tidak akan naik secara signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purnomo mengakui saat ini pihaknya tengah mempelajari masalah tersebut dengan berkonsultasi dengan Organization of Petroum Exporting Countries (OPEC) dan International Energy Agency (IEA)
"Kita sedang pelajari kondisi ini dengan OPEC dan IEA," ungkapnya.
Harga minyak mentah dunia kemarin kembali surut di bawah US$ 67 per barel, setelah keluarnya data pengangguran yang menghempaskan harapan akan segera pulihnya ekonomi AS.
Kontrak utama minyak light pengiriman Agustus turun 2,47 dolar menjadi US$ 66,84 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Agustus juga turun 2,17 dolar menjadi US$ 66,62 per barel.
Pada kesempatan yang sama, Purnomo menambahkan pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan produksi minyak hingga 200.000 barel per hari (bph) sehingga produksi minyak di masa mendatang bisa mencapai 1,1 juta barel per hari.
"Kami memiliki planning untuk menaikan produksi hingga 200.000 bph.Namun masalahnya lapangan-lapangan tua turun. Misalnya di duri, Riau. Jadi kita tetap pakai angka konservatif di APBN 2009 (960 ribu bph)," paparnya.
(epi/qom)











































