"Kita akan lakukan rakor dalam waktu dekat, bulan ini juga," kata Deputi Menko Perekonomian bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi saat ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jl. Wahidin, Jumat (3/7/2009).
Bayu menjelaskan, masih tingginya harga gula saat ini kemungkinan karena adanya permintaan industri makanan dan minuman terhadap gula kristal putih dipicu kebijakan mengurangi impor gula (rafinasi).
"Gula rafinasi jauh lebih sedikit, yang impor jauh lebih sedkit dari tahun lalu sehngga industri mencari gula biasa," katanya.
Ia menambahkan, tren harga gula selama ini selalu mengalami penurunan saat musim giling. Tapi tahun ini nampaknya asumsi itu tidak terjadi karena memang harga gula Internasional masah tinggi
"Iya jelas (jika industri mengambil gula mempengaruhi harga), karena demand gula putih yang diproduksi di dalam negeri artinya menjadi lebih besar, kita mau lihat solusinya seperti apa," ujarnya.
Menurut Bayu, harga gula saat ini memang tidak naik tapi tidak turun, artinya dari sisi harga di produsen dan petani sudah seimbang meski dari sisi konsumen masih dianggap cukup tinggi. Tetapi ia juga tidak sependapat adanya dugaan para produsen gula yang menahan stok, sebagai dugaan penyebab naiknya harga gula.
"Jadi gula tidak naik tapi tidak turun. Juga di sisi lain gula itu tidak ingin setiap panen harga jatuh kemudian memberatkan petani, jadi gula itu sekarang dari sisi petani sudah mulai mantap," katanya.
Melalui Departemen Perdagangan sebelumnya pemerintah menginginkan harga gula berada dikisaran Rp 7000-7500 per kg, namun kenyataanya sekarang ini harga ditingkat konsumen masih berada dikisaran Rp 8000 lebih per Kg.
(hen/qom)











































