Ekspor LNG Tangguh sudah ditunggu-tunggu setelah proyek ini beroperasi sejak mendapat izin resmi dari Pemerintah Indonesia pada Maret 2005.
"Sebagai sentra LNG Indonesia yang ketiga, pengiriman kargo pertama ini diharapkan akan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen LNG di dunia, di samping juga sebagai salah satu sumber penambahan penerimaan negara. Proyek Tangguh ini nantinya diharapkan akan menjadi cikal bakal pengembangan industri strategis di wilayah Indonesia Timur," kata Kepala BP Migas R Priyono dalam siaran pers BP Migas, Senin (6/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pencapaian penting ini merupakan hasil langsung dari gabungan keahlian dan komitmen yang terpadu dari para karyawan, mitra kerja dan kontraktor Indonesia dan luar negeri. LNG Tangguh merupakan contoh gemilang dari apa yang dapat dicapai dengan perencanaan dan manajemen proyek yang ketat, dan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat setempat," kata Presiden BP Indonesia William Lin.
Tangguh terdiri dari enam lapangan gas dari kontrak kerja sama Wiriagar, Berau dan Muturi di daerah Bintuni, Papua Barat. Gas yang diproduksi dari dua anjungan lepas pantai tak berawak disalurkan melalui pipa sepanjang 22 kilometer ke dua kilang pencair gas, masing-masing dengan kapasitas produksi LNG 3,8 juta ton per tahun. Train 1 memulai produksi LNG untuk kargo pertama ini pada pertengahan Juni sementara Train 2 diharapkan mulai beroperasi pada kwartal ini juga.
Tangguh dioperasikan oleh BP Indonesia, dengan saham 37.16%, kontraktor kepada Badan Pengelola Minyak dan Gas (BPMIGAS). Mitra lain dalam proyek tersebut adalah MI Berau B.V. (16.3%), CNOOC Ltd. (13.9%), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd. (12.23%), KG Berau/KG Wiriagar (10%), LNG Japan Corporation (7.35%) and Talisman (3.06%). (lih/qom)











































