3 Daerah Tetap Defisit Listrik Saat Pilpres

3 Daerah Tetap Defisit Listrik Saat Pilpres

- detikFinance
Senin, 06 Jul 2009 13:07 WIB
3 Daerah Tetap Defisit Listrik Saat Pilpres
Jakarta - Kondisi kelistrikan secara umum menjelang dan saat pemilihan presiden dinyatakan masih aman. Namun ada 3 daerah yang diperkirakan masih akan mengalami defisit di hari pesta rakyat 8 Juli 2009.

Menurut Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar, ketiga daerah itu adalah Sumatera Bagian Tengah (Sumatera Barat dan Riau), Barito dan Lombok. Ketiga daerah ini memang biasa mengalami defisit listrik, sehingga defisit bukan hanya terjadi ketika pemilu saja.

"Sumatera Bagian Tengah defisit. Daya mampu PLTA menurun karena menurunnya level permukaan air di musim kemarau," katanya dalam keterangan pers di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (6/7/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain ketiga daerah itu, PLN juga memperkirakan akan ada 5 sistem yang pasokan listriknya dinyatakan dalam status siaga. Kelimanya adalah sistem Sumtera Bagian Utara, Kendari, Maluku dan Maluku Utara, Kupang dan Jayapura.

"Namun pada tanggal 8 Juli, kondisi kelistrikan sistem luar Jamali pada umumnya berada pada kondisi normal, kecuali pada sistem kelistrikan Sumatera Bagian Tengah, Maluku dan Maluku Utara yang mengalami kondisi siaga dan sistem kelistrikan Barito dan Lombok mengalami kondisi defisit," paparnya.

Fahmi memaparkan pihaknya akan tetap memprioritaskan pasokan listrik di tempat strategis seperti Kantor Gubernur/Bupati/Walikota, kantor KPUD dan lokasi pemungutan suara serta perhitungan suara di daerah defisit.

"Misalnya dengan menyiapkan regu pemeliharaan yang siaga sepanjang waktu, menyiagakan mobile genset dan diupayakan tidak terjadi pemadaman pada konsumen listrik rumah tangga dengan melakukan load curtailment pada pelanggan industri dan bisnis. Kami juga meniadakan pemeliharaan pembangkit dan jaringan listrik selama pemilu,"
ungkapnya.

Secara keseluruhan, kondisi kelistrikan sistem Jawa Madura Bali selama periode Siaga Pemilu (1-15 Juli 2009) akan berada di kondisi normal. Beban puncak tertinggi pada periode tersebut diperkirakan mencapai 16.575 MW dan beban puncak terendah mencapai 14.900 MW.

"Sehingga cadangan operasi pada periode beban puncak bervariasi antara 537-2.383 MW," ujarnya.

Sedangkan khusus 8 Juli 2009, tingkat konsumsi listrik diperkirakan berada di bawah hari kerja normal. Di mana diperkirakan beban puncak tertinggi hanya mencapai 13.700 MW (17% lebih rendah dari hari kerja normal) dan beban terendah sekitar 9.000 MW (25% lebih rendah dari hari kerja normal yang mencapai 12.000 MW).

"Dengan demikian pada periode beban puncak pada hari H, tersedia cadangan operasi yang relatif besar yaitu sekitar 3.500 MW," tambahnya.

Tim Siaga BBM dan Listrik

Pemerintah memastikan pasokan BBM dan listrik menjelang pemilihan presiden akan aman.  Departemen ESDM membentuk tim siaga untuk mengawasi pasokan BBM dan listrik mulai 1-15 Juli 2009.

"BBM stoknya cukup untuk 15-20 hari,"ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di acara yang sama.

Purnomo menjelaskan untuk mengatasi ketersedian BBM di SPBU, Departemen ESDM, BPH Migas dan PT Pertamina telah membentuk satgas yang siaga selama 24 jam mulai 1-15 Juli di setiap region pemasaran niaga serta menyiapkan pasokan tambahan BBM di seluruh
instalasi/terminal/depot BBM.

"Dengan begitu, diharapkan pendistribusian BBM ke SPBU dapat berjalan lebih lancar dan ketersedian BBM di SPBU terjamin selama Pilpres," katanya.

Adapun posisi stok BBM hingga pada 4 Juli 2009 dalam keadaan aman. Stok bensin premium tersedia 973.244  KL cukup untuk 17,3 hari, stok solar sebesar 1.437.277 KL cukup untuk 22,4 hari, minyak tanah  sekitar 627.506 KL cukup untuk 47.2 hari dan stok Avtur sebesar 115.558 KL diperkirakan cukup untuk 15,4 hari.

(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads