Demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani saat ditemui di kediamannya, Jalan Kertanegara No.14, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (8/7/2009).
"Karena pada pileg jumlahnya ribuan, dan menyebar. Kalau pilpres, para capres hanya mengambil titik-titik tertentu saja. Selain itu kampanye besar-besaraan juga sudah tidak terlihat, lebih banyak retorika ke media massa," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi ekonomi pasti ada pengaruhnya 1 atau 2 putaran. Karena kalau ekonomi, bagi pelaku ekonomi, semua ada positif dan negatifnya. Kalau dari sisi aktivitas ekonominya, selama kampanye damai dan menyentuh rakyat, rakyat merasa puas, pasti positif," tuturnya.
Ditegaskannya selain kegiatan kampanye yang dilakukan berdampak positif terhadap ekonomi.
"Kalau dengar dari orang-orang yang ikut pileg kemarin, banyak ongkos-ongkos yang mereka keluarkan untuk menjadi caleg. Itu bisa dilihat dampaknya terhadap ekonomi dan menjelaskan mengapa di kuartal I konsumsi bisa tumbuh sampai 5,8%," jelasnya.
Akan tetapi, menurut Sri Mulyani dampak pilpres ini terhadap perekonomian lebih minim dibandingkan pemilihan calon legislatif sebelumnya.
Sri Mulyani mengatakan, hajatan pemilu yang saat ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi investor untuk menanamkan modalnya.
"Mereka (investor) sudah membuat keputusan dalam berinvestasi, ekspansi dengan memasukkan faktor pemilu ini. Investor itu menaruh uang besar, jadi dalam intelejen mereka lebih teliti," jelasnya.
"Makanya mereka akan melihat masalah DPT ini, wacana penundaan, atau 1-2 putaran. Kalau mereka membuat keputusan, itu semua sudah dimasukkan," pungkasnya.
(dnl/qom)










































