RI Perjuangkan 3 Isu Dalam Forum G-8 Plus Plus

RI Perjuangkan 3 Isu Dalam Forum G-8 Plus Plus

- detikFinance
Rabu, 08 Jul 2009 13:09 WIB
RI Perjuangkan 3 Isu Dalam Forum G-8 Plus Plus
Jakarta - Dalam forum pertemuan G-8 plus 5 plus 3 yang mulai digelar pada tanggal 9 Juli 2009 besok, Indonesia akan memperjuangkan 3 isu utama yaitu soal perubahan iklim (climate change), proteksionisme perdagangan dan keamanan pangan (food security).

"Saya dan Pak Rachmat Witoelar (Menteri Lingkungan Hidup)  diminta untuk mewakili presiden dalam pertemuan G-8 plus 5 plus 3, malam ini saya akan ke Italia," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu saat ditemui usai menyontreng di kediamannya Jl Lamandau, Jakarta, Rabu (8/7/2009).

Ia menjelaskan, forum G-8 adalah pertemuan tahunan negara-nagara maju, yang sejak  tahun lalu telah  mengundang 5 negara yaitu Brasil, China, India,  Afrika Selatan dan Meksiko. Sedangkan pada tahun ini akan ada tambahan 3 negara yang diundang yaitu Indonesia, Australia dan Korea.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam isu perubahan iklim, Mari menjelaskan pihak Indonesia berupaya meminta komitmen kepada tim inti (G-8) untuk mendorong agenda climate change khususnya untuk mendorong komitmen negara maju untuk lebih berani dan jelas terhadap isu climate change.

"Seperti Amerika yang komitmennya belum jelas dan mendorong keberhasilan Bali roadmap," terang Mari.

Untuk isu kedua yaitu isu perdagangan yaitu membahas masalah isu proteksionisme, dengan tujuan menciptakan sistem perdagangan yang adil bagi Indonesia. Termasuk perjuangan agar Indonesia tidak ditekan terus oleh negara maju dalam masalah isu proteksionisme karena semua negara pun melakukannya.

Sedangkan isu yang ketiga adalah soal food security, dimana Indonesia akan memperjuangkan kepentingan Indonesia dan negara berkembang lainnya dalam ketahanan pangan.

"Intinya kita berpartisipasi bagaimana statement yang keluar dari community leader itu berimbang tidak berpihak pada negara maju saja," jelas Mari.

Selain itu kata Mari, dari pertemuan bergengsi tersebut diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran semua pihak termasuk negara maju dan berkembang terhadap perdagangan yang adil. Berujung pada upaya menyelesaikan putaran Doha yang perundingannya sangat alot selama bertahun-tahun.

"Diharapkan ada upaya untuk memulai lagi komitmen untuk diselesaikan (putaran Doha) tahun depan misalnya," ujarnya.


(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads