Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Askindo Halim Abdul Razak dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/7/2009).
Halim mengatakan selama ini bibit kakao dihasilkan oleh petani melalui teknik sambung pucuk dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Jember, Jawa Timur yang selama mengembangkan teknik SE karena dianggap menghasilkan bibit lebih banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini Jember (Puslitkoka) dijual ke swasta, swasta ikut tender dinas perkebunan, lalu di jual ke dinas. Kenapa harus dijual ke swasta. Jadi harga bibitnya mahal, selama ini dijual oleh perusahaan-perusahaan besar penyalur bibit," ucapnya.
Ia mencontohkan dari produksi bibit kakao yang dihasilkan oleh Puslitkoka Jember harganya Rp 8000 per pohon sampai ke tangan petani, sedangkan kalau bibit genetik petani (sambung pucuk) oleh petani cuma Rp 3000-4000 per pohon. Meskipun untuk program revitalisasi ini bibit yang diberikan kepada petani gratis.
"Jadi usul kami distribusi dipersingkat, Jember (puslitkoka) ini kan institusi pemerintah, seharusnya bisa langsung diberikan ke kami," serunya.
Program Revitalisasi Kakao tahun 2009 meliputi beberapa upaya diantaranya ada 3 upaya yang akan dilakukan antara lain:
Intensifikasi yaitu berupaya mendorong kepada petani kakao dalam membudidayakan kakao yang baik dan benar, diantaranya melakukan penyuluhan, pemberian pupuk gratis.
Kegiatan rehabilitasi tanaman kakao, untuk menekan banyaknya tanaman kakao muda tetapi produksivitasnya rendah, yang ditargetkan sebanyak 60.000 hektar.
Peremajaan tanaman kakao, diharapkan bisa dilakukan peremajaan, dengan menggunakan bibit yang baru. Yaitu sebanyak 20.000 hektar atau membutuhkan 20 juta bibit.
"Dana Rp 1 triliun untuk semua 3 kegiatan ini," katanya.
Untuk penyaluran bibit sampai saat ini belum ada yang ditanam karena masih dalam proses tender, padahal kata dia sampai akhir Desember 2009 harus sudah di tanam bibit kakao tersebut di lokasi-lokasi revitalisasi di Sulawesi.
(hen/dnl)











































