Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Halim Abdul Razak mengatakan dalam rangka pengembangan perkebunan kakao dan revitalisasi kebun, maka upaya ekspansi ke wilayah potensial seperti Indonesia Barat sangat penting. Selain bisa menggunakan bibit unggul, di wilayah-wilayah tersebut bisa menjadi sentra produksi kakao alternatif di luar Sulawesi.
Halim mengatakan potensi di wilayah barat Indonesia mencapai 300.000 hektar yaitu wilayah Aceh 150.000 hektar dan Sumatera BaratΒ 150.000 hektar, dengan potensi produksi kakao sampai 400.000 ton kakao selama 3 tahun kedepan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang ini, jumlah petani kakao yang berjumlah 4,5 juta orang lebih, umumnya belum banyak mengerti membudidayakan kakao yang baik sehingga tingkat produksinya hanya 0,5 ton per hektar. Padahal kata dia dengan ekspansi ke wilayah barat, jika menggunakan bibit unggul maka produksi per hektarnya bisa ditingkatkan sampai 2 ton kakao per hektar.
"Kakao itu sangat tinggi permintaanya, jadi tidak satu kilo pun kakao di Indonesia yang tidak bisa dijual," ucapnya.
Tahun ini saja kata dia, jumlah ekspor yang bisa diperoleh produk kakao Indonesia bisa mencapai US$ 1,4 miliar dengan tingkat harga masih diatas US$ 2.000 per ton.
Namun kata dia, saat ini peningkatan konsumsi kakao dunia mencapai 6% pertahunΒ tetapi peningkatan produksi cuma 3% per tahun. Dari kebutuhan kakao dunia yang per tahunnya mencapaiΒ 3,4 juta ton, Indonesia mampu menyuplai 350.000 ton per tahun atau menempati peringkat ketiga dibawah Pantai Gading dan Ghana.
(hen/dnl)











































