Asumsi Makro Pemerintah Semester I-2009 Meleset

Asumsi Makro Pemerintah Semester I-2009 Meleset

- detikFinance
Selasa, 14 Jul 2009 08:42 WIB
Asumsi Makro Pemerintah Semester I-2009 Meleset
Jakarta - Sampai dengan semester I-2009, realisasi asumsi makro meleset dari target yang telah ditetapkan pemerintah pada APBN 2009 (dokumen stimulus).

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengatakan pelaksanaan APBN 2009 dalam semester pertama masih dipengaruhi efek lanjutan dari pelemahan ekonomi global.

"Perekonomian dunia mengalami pertumbuhan negatif pada awal tahun. Namun, perekonomian dunia mulai menunjukkan perbaikan di triwulan II-2009," ujarnya dalam rapat kerja bersama Menteri Keuangan dan Bank Indonesia di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (13/7/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara umum, kondisi indikator ekonomi pada semester I-2009 adalah sebagai berikut:

  • Pertumbuhan ekonomi, dari target APBN 2009 (dokumen stimulus) 4,5%, realisasi semester I-2009 adalah 4,1%.
  • Tingkat inflasi (yoy), dari target dari target APBN 2009 (dokumen stimulus) 6%, realisasi semester I-2009 adalah 3,65%.
  • Nilai tukar rupiah, dari target APBN 2009 (dokumen stimulus) Rp 11.000/US$, realisasi semester I-2009 adalah Rp 11.082/US$.
  • Suku bunga SBI 3 bulan, dari target APBN 2009 (dokumen stimulus) 7,5%, realisasi semester I-2009 adalah 8,53%.
  • Harga minyak mentah Indonesia (ICP), dari target APBN 2009 (dokumen stimulus) US$ 45/barel, realisasi semester I-2009 adalah US$ 51,6/barel.
  • Produksi minyak, dari target APBN 2009 (dokumen stimulus) 960 ribu barel per hari, realisasi semester I-2009 adalah 957 ribu barel per hari.

Suharso mengatakan pertumbuhan ekonomi semester I-2009 didukung oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat, serta terjadi pemulihan awal untuk investasi dan ekspor.

"Pertumbuhan sektor pertanian masih kuat, namun untuk sektor pengolahan dan perdagangan terimbas krisis global. Sedangkan sektor transportasi-komunikasi, listrik, air, dan gas masih mencatat pertumbuhan yang tinggi," tuturnya.

Menurut Suharso, rendahnya inflasi, tren penurunan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah yang cenderung menguat, dan adanya ruang penurunan BI Rate, serta stimulus fiskal menjadi faktor penguat pulihnya kondisi ekonomi nasional.

(dnl/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads