Pendapatan Negara Semester I Tak Capai 50% Target 2009

Pendapatan Negara Semester I Tak Capai 50% Target 2009

- detikFinance
Selasa, 14 Jul 2009 08:59 WIB
Pendapatan Negara Semester I Tak Capai 50% Target 2009
Jakarta - Realisasi pendapatan negara pada semester I-2009 belum mencapai setengah (50%) dari target setahun yang ditetapkan APBN 2009 (dokumen stimulus).

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengatakan, realisasi pendapatan dan hibah negara pada semester I-2009 adalah sebesar Rp 367,2 triliun atau 43,3% dari target APBN 2009 (dokumen stimulus).

Suharso mengatakan penerimaan perpajakan di semester I-2009 adalah Rp 288,5 triliun atau 43,6% dari target APBN 2009 (dokumen stimulus).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Penerimaan perpajakan) ini dipengaruhi oleh melambatnya laju pertumbuhan ekonomi, menurunnya volume dan nilai impor, kenaikan harga rata-rata ICP, kebijakan tarif cukai rata-Rata 7% di Februari 2009, tarif bea keluar CPO masih nol persen, dan sunset policy pajak," tuturnya dalam rapat kerja bersama Menteri Keuangan dan Bank Indonesia di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (13/7/2009).

Selain penerimaan perpajakan di bawah 50%, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga baru Rp 78,5 triliun atau 42,2% dari target APBN 2009 (dokumen stimulus).

Karena itu di semester II-2009, pendapatan dan hibah negara ditargetkan Rp 505,4 triliun atau 59,6% dari APBN 2009 (dokumen stimulus), yang berasal dari penerimaan perpajakan Rp 363,6 triliun dan PNBP Rp 141 triliun.

Penerimaan perpajakan tersebut dapat dicapai dengan upaya perbaikan administrasi dan peningkatan kepatuhan perpajakan, peningkatan PPN yang didukung oleh pertumbuhan konsumsi dalam negeri yang masih positif serta pemulihan impor khususnya bahan baku dan barang modal, meningkatnya volume CPO serta kenaikan tarif bea keluar CPO menjadi 3%, meningkatnya nilai dan volume impor di semester II-2009, dan intensifikasi pemungutan cukai.

Sementara untuk PNBP semester II-2009 dapat dicapai Rp 141 triliun karena prognosa ICP dan lifting minyak yang lebih tinggi, peningkatan dividen Pertamina dan intensifikasi setoran dividen BUMN setelah selesai RUPS, terakhir karena meningkatnya realisasi pendapatan BLU.

(dnl/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads