Defisit APBN RI Lebih Rendah dari AS dan Inggris

Defisit APBN RI Lebih Rendah dari AS dan Inggris

- detikFinance
Selasa, 14 Jul 2009 12:44 WIB
Defisit APBN RI Lebih Rendah dari AS dan Inggris
Jakarta - Defisit dan eksposur utang Indonesia di 2009 masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara maju, meskipun krisis ekonomi global sedang terjadi.

Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam acara 'Peluncuran Buku Pedoman Reformasi Perencanaan dan Penganggaran' di Gedung Dhanapala, Jalan Wahidin Raya, jakarta, Selasa (14/7/2009).

"Defisit kita 2,5%, kalau kita lihat AS saja 12,3% dari PDB-nya yang sebesar US$ 13 triliun jadi kita bisa lihat utangnya. Lalu UK (Inggris) juga defisitnya 10% dari PDB-nya yang sebesar US$ 3 sampai 3,5 triliun," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tempat yang sama, Dirjen Pengeloaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan, dengan besarnya defisit anggaran di negara-negara maju maka market international akan dibanjiri oleh obligasi.

"Market ke depannya akan semakin jenuh karena banyak negara yang harus membiayai stimulus fiskal dan kemudian sebagian dari perbaikan perbankannya, maka akan banyak diterbitkan obligasi negara dari berbagai negara," jelasnya.

Untuk menyiasati hal tersebut, Indonesia akan memanfaatkan pasar obligasi domestik yang masih sangat tinggi daya serapnya.

"Dan itu juga tergantung seberapa besar kita melakukan diversifikasi sehingga daya serap pasar di pasar domestik akan tetap baik dan besar, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan kita," ujarnya.

Pemerintah yakin daya serap pasar atas obligasi negara masih akan tinggi di pasar internasional. Apalagi Indonesia hanya salah satu dari sedikit negara yang punya fundamental ekonomi cukup baik, dan satu dari tiga yang pertumbuhan ekonominya positif.

Selain itu, lanjut Rahmat, beberapa lembaga rating juga memperbaiki rating utang Indonesia menjadi lebih baik dan ini menjadi daya tarik tersendiri buat investor.

"Beberapa waktu lalu Japan rating agency memperbaiki rating kita bahkan memperbaiki dari BB menjadi BB+. Jadi itu menambah daya tarik obligasi negara kita di pasar internasional," imbuh Rahmat.



(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads