Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan, di tengah kondisi krisis ini, deviasi harga minyak dunia sangat lebar karena masih banyaknya ketidakpastian ekonomi.
"Harga minyak dunia sangat mempengaruhi APBN karena ada uncertainty harga, bahkan deviasi harga minyak dunia tahun ini sampai tahun depan besar yaitu antara US$ 45-120 per barel," ujarnya dalam acara Peluncuran Buku Pedoman Reformasi Perencanaan dan Penganggaran di Gedung Dhanapala, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (14/7/2009).
Dikatakannya ketidakpastian harga minyak dunia ini terlihat dalam beberapa bulan terakhir, dimana sempat menyentuh US$ 70 per barel dan sekarang berada di antara US$ 50 sampai 60 per barel.
"Jadi harga komoditas ini mempengaruhi postur APBN," imbuhnya.
Sri Mulyani mengatakan, krisis ekonomi global yang terjadi saat ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia merosot dan sampai kuartal I-2009 hanya ada 3 negara yang pertumbuhan ekonominya masih positif yaitu Cina, India, dan Indonesia.
"Kita tahu defisit negara-negara di dunia meningkat drastis dan ini mengakibatkan membanjirnya obligasi, kemudian juga pencetakan uang besar-besaran yang akan mengakibatkan inflasi, dan inflasi ini mematikan recovery," pungkasnya.
Harga minyak mentah di pasar Asia pagi ini mulai membaik setelah kemarin terjungkal di bawah US$ 60 per barel. Pada perdagangan di Singapura Selasa ini, kontrak utama minyak light pengiriman Agustus naik tipis 38 sen menjadi US$ 60,07 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Agustus naik 39 sen menjadi US$ 61,08 per barel.
(dnl/qom)










































