Angka itu berarti membaik dibandingkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I-2009 yang tercatat hanya 6,1%. Untuk semester I-2009, perekonomian China mencatat pertumbuhan 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut membuat China semakin dekat dengan target pertumbuhan ekonominya yang sebesar 8% untuk tahun 2009. Ekonomi China selama kuartal I-2009 memang sempat terpukul oleh krisis finansial glonal, sehingga mencatat angka pertumbuhan terendah dalam 1 dekade terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dasar bagi pemulihan ekonomi masih lemah. Momentum untuk kenaikan masih tidak stabil, pola pemulihan masih tidak seimbang sehingga masih terdapat faktor gejolak ketidakpastian," ujarnya.
China, India dan Indonesia menjadi negara-negara yang masih mampu mencetak pertumbuhan ekonomi positif di tengah krisis finansial global.
Indonesia pada kuartal I-2009 mencetak pertumbuhan ekonomi 4,1% dan pada kuartal II-2009 diperkirakan angkanya tidak akan terlalu jauh. Indonesia cukup diuntungkan dari perekonomian domestiknya yang sedang bergairah berkat pemilu. Meski ekspor turun akibat merosotnya permintaan global, Indonesia masih mampu mencetak pertumbuhan ekonomi yang positif.
Sebelum krisis mendera perekonoian global, China mampu mencetak pertumbuhan ekonomi dua digit sejak tahun 2003 hingga 2007. Pemerintah China bahkan harus melakukan sejumlah cara untuk meredam perekonoiannya agar tidak overheating.
Seiring terjadinya krisis, pemerintah China juga mengeluarkan sejumlah paket stimulus. Pada November 2008, China mengimplementasikan paket stimulus US$ 580 miliar yang memberikan dampak sangat dramatis.
Investasi aset tetap China, yang merupakan sebuah besaran belanja infrastruktur pemerintah melonjak hingga 33,6% selama semester I-2009.
(qom/lih)











































