Produsen Mesin Perkakas Dunia Ramai-ramai Banting Harga

Produsen Mesin Perkakas Dunia Ramai-ramai Banting Harga

- detikFinance
Kamis, 16 Jul 2009 13:05 WIB
Produsen Mesin Perkakas Dunia Ramai-ramai Banting Harga
Jakarta - Para negara produsen mesin perkakas ramai-ramai mengobral harga jual produknya, menyusul turunnya permintaan akibat krisis global. Selama krisis global, sejumlah negara produsen mesin perkakas dunia mengalami penurunan produksi hingga 50% selama kuartal I-2009.

"Sekarang ini karena krisis tentunya banyak yang menurunkan harga, sebagai upaya untuk survive," kata Ketua Umum Asosiasi Mesin Perkakas Indonesia (Asimpi) Dasep Ahmadi saat ditemui di kantor depperin, Kamis (16/7/2009).

Meskipun negara penghasil mesin perkakas terbesar yaitu Jepang dan Jerman ikut mengobral produknya, namun mesin perkakas lokal masih bisa bertahan karena segmen produknya berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kata dia, ancaman justru datang dari China karena segmen produk mesin perkakasanya sama dengan Indonesia. Bahkan aksi penetrasi pasar para produsen China yang agresif, membuat produk China bisa menjadi pesaing kuat.
 
"Kalau produk kita itu levelnya, antara China dan Taiwan," katanya.

Negara yang paling terpuruk dari anjloknya produksi mesin perkakas adalah Jepang, negara matahari terbit ini selama kuartal I-2009 mengalami penurunan produksi hingga 80%. Kondisi ini ditopang oleh turunnya permintaan pasar mesin perkakas hingga 60% di pasar domestik Jepang.

Kemudian disusul oleh Jerman dan Uni Eropa yang mengalami penurunan produksi hingga 58% pada periode yang sama. Sedangkan Uni Eropa turun hingga 53% karena turunnya konsumsi pasar domestik Uni Eropa yang ditaksir pada tahun 2009 turun hingga 30%-40%.

Penurunan produksi pun terjadi dengan China, negeri tirai bambu ini pada kuartal I-2009 mengalami penurunan produksi 16,4%, penurunan serupa mulai terjadi semenjak pertengahan tahun 2008. 

Hal sama terjadi di negeri penghasil mesin perkakas seperti Taiwan yang mengalami penurunan ekspor sampai 50,9%, dan dialami India yang turun produksinya sampai 20% walaupun pada tahun 2007-2008 masih mengalami pertumbuhan produksi 25%.

(hen/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads