"Sekarang ini karena krisis tentunya banyak yang menurunkan harga, sebagai upaya untuk survive," kata Ketua Umum Asosiasi Mesin Perkakas Indonesia (Asimpi) Dasep Ahmadi saat ditemui di kantor depperin, Kamis (16/7/2009).
Meskipun negara penghasil mesin perkakas terbesar yaitu Jepang dan Jerman ikut mengobral produknya, namun mesin perkakas lokal masih bisa bertahan karena segmen produknya berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
"Kalau produk kita itu levelnya, antara China dan Taiwan," katanya.
Negara yang paling terpuruk dari anjloknya produksi mesin perkakas adalah Jepang, negara matahari terbit ini selama kuartal I-2009 mengalami penurunan produksi hingga 80%. Kondisi ini ditopang oleh turunnya permintaan pasar mesin perkakas hingga 60% di pasar domestik Jepang.
Kemudian disusul oleh Jerman dan Uni Eropa yang mengalami penurunan produksi hingga 58% pada periode yang sama. Sedangkan Uni Eropa turun hingga 53% karena turunnya konsumsi pasar domestik Uni Eropa yang ditaksir pada tahun 2009 turun hingga 30%-40%.
Penurunan produksi pun terjadi dengan China, negeri tirai bambu ini pada kuartal I-2009 mengalami penurunan produksi 16,4%, penurunan serupa mulai terjadi semenjak pertengahan tahun 2008.Â
Hal sama terjadi di negeri penghasil mesin perkakas seperti Taiwan yang mengalami penurunan ekspor sampai 50,9%, dan dialami India yang turun produksinya sampai 20% walaupun pada tahun 2007-2008 masih mengalami pertumbuhan produksi 25%.
(hen/lih)











































