PLN Dapat Pinjaman US$ 293.226.064

PLN Dapat Pinjaman US$ 293.226.064

- detikFinance
Jumat, 17 Jul 2009 17:14 WIB
PLN Dapat Pinjaman US$ 293.226.064
Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan The Export Import Bank of China (CEXIM) senilai US$ 293.226.064 untuk proyek PLTU Pacitan. PLTU yang berada di Jawa Timur ini berkapasitas 2x315 MW.

"Dengan ini kita melangkah lebih maju lagi untuk pendanaan proyek 10 Ribu Megawatt tahap I," ungkap Dirut PLN Persero Fahmi Mochtar dalam acara penandatangan kredit dengan CEXIM Bank, di Graha Sawala, Jalan Lpaangan Banteng, Jakarta, Jumat (17/7/2009).

Menurut Fahmi, dengan ditandatanganinya kredit pendanaan ini, maka pembangunan PLTU pacitan sudah bisa berjalan sesuai rencana dan diharapkan bisa beroperasi mulai awal 2010. "Pinjaman ini melengkapi pembiayaan untuk PLTU Pacitan dimana sebelumnya proyek ini sudah diperoleh pinjaman dari Bank Bukopin," jelasnya.

Fasilitas kredit dari CEXIM Bank ini diberikan dengan tenor 12 tahun door to door termasuk grace period sampai tiga tahun. Pinjaman berbasis LIBOR ini bertenor lebih panjang dari apa yang tersedia di pasar pinjaman komersial.

Saat ini delapan proyek percepatan 10 ribu MW yang berlokasi di Jawa yaitu PLTU Paiton (1x660 MW), PLTU Suralaya (1x625 MW), PLTU Labuan (2x315 MW), PLTU Indramayu (3x330 MW), PLTU Rembang (2x315 MW), PLTU Pelabuhan Ratu (3x350 MW), PLTU Teluk Naga (3x315 MW) dan PLTU Pacitan (2x315 MW) sudah memperoleh pendanaan penuh baik untuk porsi rupiah maupun dollar.

"Untuk proyek yang berlokasi di Jawa telah diperoleh komitmen pendanaan sebesar US$ 2,988Β  miliar dan Rp 11,4 triliun," jelas Fahmi.

Sementara untuk luar Jawa, 20 dari 23 proyek yang dikontrak baru memperoleh komitmen pendanaan porsi rupiah sebesar Rp 5,7 triliun dan 16 lokasi telah memperoleh komitmen pendanaan untuk porsi valas sebesar US$ 551 juta.

"Secara keseluruhan untuk pembangkit 10 ribu MW di jawa dan luar Jawa dari total kebutuhannya US$ 4,8 miliar. Sudah ditandatangani total US$ 3,5 milyar atau 72% dari kebutuhan porsi dollar. Sementara untuk porsi rupiah dari kebutuhan RP 19,2 triliun sudah ditandatangani Rp 17 triliun," paparnya.
(epi/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads