Demikian hal itu dikemukakan oleh Bendahara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto ketika dihubungi wartawan, Jumat (18/7/2009) malam.
"Kalo melihat ke belakang pengalaman sebelumnya, seperti bom Bali dan Marriot satu, ini memang akan berdampak tapi tidak lama, paling hal ini akan berdampak dalam waktu 3 sampai 6 bulan kedepan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan pendapatan tersebut akibat dari banyaknya wisatawan asing yang sudah pasti membatalkan kedatangannya ke Indonesia setelah mendengar berita tidak sedap tersebut.
"ini merupakan promosi yang sangat buruk bagi dunia internasional. Pagi-pagi berita bom di media internasional marak. Ini bakalan menurunkan minat orang ke Indonesia. Orang yang sudah punya rencana ke Indonesia akan batalin dan berubah ke Thailand, Malaysia atau kemanalah," ujarnya.
Menurutnya, dengan kembali terjadi ledakan bom di Marriot untuk kedua kalinya, ada kemungkinan hotel asal Amerika tersebut berhenti berinvestasi di Indonesia, dengan kata lain hengkang. Hal tersebut juga berlaku untuk Ritz Carlton.
"Ada kemungkinan 50-50 mereka akan cabut (hengkang). Ini bukan franchise tapi investasi langsung. Sudah dua kali terjadi (bom), mereka rasanya bisa mikir-mikir untuk cabut," jelasnya.
(ang/qom)











































