Perekonomian RI Takkan Goyah

Bom Marriott-Ritz Carlton

Perekonomian RI Takkan Goyah

- detikFinance
Senin, 20 Jul 2009 11:55 WIB
Perekonomian RI Takkan Goyah
Jakarta - Perekonomian Indonesia diperkirakan tidak akan menghadapi goncangan meski terjadi peristiwa bom di hotel mewah JW Marriott dan Ritz Carlton pada Jumat, 17 Juli lalu.

Ledakan bom sudah terjadi beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, sementara perekonomian Indonesia tetap tumbuh dengan baik.

"Kami tidak melihat ada guncangan ekonomi yang berarti setelah terjadinya ledakan bom itu," ujar Helmi Arman, ekonom Bank Danamon dalam catatan risetnya yang dikutip detikFinance, Senin (20/7/2009)l

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Baik pola belanja konsumen dan iklim investasi mestinya tidak akan tercederai dalam waktu yang lama. Negara ini sudah mengalami serangan teror lainnya dalam 5 tahun terakhir," imbuhnya.

Meski demikian, Helmi melihat APBN 2010 kemungkinan akan sedikit terpengaruh oleh serangan bom di hotel mewah tersebut. Pemerintah mau tak mau harus menambah anggaran pertahanan untuk mengantisipasi masalah serupa.

"Namun sekarang masih terlalu awal utnuk melihat dampaknya pada defisit anggaran atau penerbitan obligasi," tambahnya lagi.

Sementara Martin Hughes, Direktur Business Risk Indonesia mengatakan, peristiwa bom di 2 hotel tersebut diyakini tidak akan menghentikan investasi asing. Meskipun dalam peristiwa tersebut banyak orang asing yang menjadi korban.

"Saya tidak berpikir peristiwa itu akan menghentikan investasi. Mungkin akan ada sedakan sedikit, namun pertunjukan harus terus berjalan," ujarnya seperti dikutip dari AFP.

Perekonomian Indonesia selama kuartal I-2009 masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat hingga 4,1% di saat sejumlah negara mencatat pertumbuhan ekonomi minus. Indonesia bersama China, India berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi positif di saat negara-negara lain terkena dampak krisis global.

Indonesia sejauh ini cukup diuntungkan dengan minimnya ketergantungan pada ekspor yang sedang melemah akibat krisis global. RI masih bisa mengandalkan pertumbuhan ekonomi domestik untuk menggerakkan pertumbuhan ekonominya. (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads