Dalam kondisi seperti ini, menurut Presiden Direktur PT Medco E&P Budi Basuki, sudah saatnya Indonesia sadar bahwa negeri ini tidak lagi kaya minyak. Indonesia pun sudah seharusnya mengubah mindset dan mengalihkan energi primernya dari minyak ke energi lain seperti gas.
"Harus berani berubah. Jangan terus merasa kalau kita ini masih kaya minyak. Harus dihemat minyak kita," katanya seusai acara MoU dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) di gedung Sekolah Pascasarjana, Jl Teknika Utara, Yogyakarta, Rabu (22/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan di habiskan untuk konsumtif. Kita harus ingat agar anak cucu kita masih bisa menikmatinya," kata Budi.
Apalagi saat ini eksplorasi minyak di Indonesia sudah semakin sulit, terbukti dengan makin banyaknya impor minyak RI. Sedangkan lapangan gas yang banyak ditemukan di Indonesia seperti di Sumatera, Kalimantan dan Papua, belum optimal dikembangkan.
Karena itu, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk mengalihkan konsumsi energi primer nasional dari minyak ke gas. Harga gas jauh lebih murah dibandingkan dengan harga minyak tentu bisa membuat pembiayaan negara lebih irit.
Namun sampai saat ini sejumlah kendala masih menghambat penggunaan gas. Antara lain belum banyaknya perusahaan migas yang fokus di pengembangan gas dan tidak lengkapnya fasilitas stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG).
"Memang tak mudah untuk merubah dari minyak ke gas terutama untuk mobil. Tapi bila berhasil akan bagus karena gas itu lebih ramah lingkungan. Cadangan gas kita paling banyak ada di Sumatera, Kalimantan dan Papua, sedang pengguna BBM terbanyak kita di Jawa dterutama Jakarta. Ini PR kita ke depan," pungkas Budi.
(bgs/lih)










































