"Pembangunan kontruksi ketiga PLTU tersebut rata-rata sekitar 65-70% dan saya harapkan bisa beroperasi pada kuartal III-2010," ujar Presiden Direktur Rekadaya Elektrika Djuanda Nugraha Ibrahim di sela-sela Rapimnas Persatuan Insinyur Indonesia, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (28/7/2009).
Sementara untuk pembangunan PLTU Tidore, Maluku Utara dengan kapasitas 2x7 MW, lanjut Djuanda, ditargetkan selesai 2011. "Saat ini progresnya baru 15%," ungkapnya.
Djuanda menyatakan keempat PLTU yang merupakan bagian dalam proyek percepatan 10 ribu MW tahap I diperkirakan dapat menghemat sekitar Rp 1 Triliun per tahun. "Kalau empat proyek tersebut jadi bisa hemat Rp 1 triliun per tahun sebab semuanya kan pakai batubara. Harga batubara kan lebih rendah dari harga BBM," ungkapnya.
Djuanda menyatakan nilai investasi pembangunan empat PLTU yang tersebut sekitar US$ 93 juta, dimana pendanaannya berasal dari ASBANDA (Asosiasi Bank Pembangunan Daerah).
"Kalau pembangunan pembangkit skala kecil biasanya malah lebih mahal yaitu US$ 1,5 juta per MW," jelasnya.
Saat ditanya proyek apa yang diincar Rekadaya dalam proyek 10 ribu MW tahap 2, Djuanda mengaku masih belum memiliki rencana soal itu. "Jadwal dan pendanaannya kan belum jelas, jadi saya belum tahu mana yang kita incar," tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Djuanda mengaku saat ini Rekadaya dan Hyuandai tengah mengikuti tender pembangunan pembangkit di Merak dan Tonasa.
" Baru proses tender, kalau Tonasa itu 2x30 MW dan Merak 2x60 MW. Kita akanΒ berpartner dengan Hyundai. Listrik yang Tonasa nanti untuk Semen Gresik, kalau Merak untuk pabrik kimia. Kita hanya EPC saja bersama Hyundai,"paparnya.
(epi/dnl)










































