Pertamina Diminta Jadi Mayoritas di Proyek Kilang Banten

Pertamina Diminta Jadi Mayoritas di Proyek Kilang Banten

- detikFinance
Selasa, 28 Jul 2009 11:25 WIB
Pertamina Diminta Jadi Mayoritas di Proyek Kilang Banten
Jakarta - Kementerian BUMN meminta PT Pertamina (Persero) untuk menjadi mayoritas dalam perusahaan patungan atau Joint Venture Company (JVC) pembangungan kilang Banten. Jika hanya menjadi minoritas, sebaiknya mundur saja dari proyek tersebut.

Hal ini disampaikan Sekretaris Menneg BUMN Said Didu di sela-sela  Rapimnas Persatuan Insinyur Indonesia, di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (28/7/2009).

"Pada prinsipnya kalau ada join venture kita usahakan menjadi mayoritas. Kalau jadi minoritas mundur saja. Kalau barang bagus kenapa tidak diperjuangkan?" katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Said, dari segi kesiapan dana, Pertamina sebetulnya bisa menjadi mayoritas dalam konsorsium tersebut. Apalagi tingkat leverage Pertamina saat ini masih terbilang cukup tinggi.

"Kalau keuangan tidak masalah. Leverage Pertamina masih besar barang bagus, uang pasti ada. Hindari minoritas, buktinya kita di Freeport minoritas dan kita tidak tahu apa-apa," paparnya.

Seperti diketahui, dalam konsorsium tersebut  Pertamina mendapatkan share sebesar 40 persen. Lalu ada BUMN Iran, yaitu National Iranian Oil Refining and Distribution Company (NIORDC) yang juga memiliki 40 persen dan Petrofield yang mengantongi saham 20 persen.

Namun belakangan, perusahaan asal Korea, STX Pan Ocean Co. Ltd, menyatakan minatnya untuk bergabung di konsorsium tersebut. Sebagai konsekuensi, jika STX jadi bergabung, maka porsi saham pemilik sebelumnya akan berkurang.

Rencana pembangunan kilang berkapasitas 300.000 barel per hari itu sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Pada tahap awal, Kilang Banten akan dibangun dengan kapasitas 150.000 barel per hari yang mengolah minyak mentah jenis Iranian Extra Heavy Crude sebesar 50 persen dan Iranian Heavy Crude 50 persen. Seluruh minyak yang akan diolah ini dipasok NIORDC.

Pembangunan kilang tahap pertama tersebut ditargetkan mulai berlangsung tahun 2010 dengan jadwal produksi tahun 2014. Produk kilang yang didesain menghasilkan gasoline ON 90/95, diesel oil, fuel oil, avtur, elpiji, coke, sulfur, dan
petrokimia akan diprioritaskan antara 70-100 persen buat pasar domestik dan sisanya diekspor sesuai standar Euro IV.
 
Kilang yang dibangun di atas lahan milik PT Pelindo II di Bojanegara, Banten itu mendapat pasokan gas 110 MMSCFD dari
PT PGN Tbk dan PT BAGS dan listrik sebesar lima MW dari PT PLN.

(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads