AS-China sepakat menjalin kerjasama dan berjanji untuk saling mengalihkan perekonomiannya guna mendorong pemulihan setelah krisis ekonomi global dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Pada akhir dialog ekonomi dan strategi AS-China yang berlangsung selama 2 hari, keduanya sepakat untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan finansial dan mengambil langkah individo untuk menangani ketidakseimbangan antara keduanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS sepakat untuk menaikkan bunga simpanan nasabah, yang akhir-akhir ini sudah meningkat ke level rata-rata untuk mengimbangi upaya konsumen di tengah resesi sebagai salah satu strategi pemulihan. Geithner mengatakan, tabungan kini menjadi tren yang umum di AS.
Pernyataan itu sekaligus memperkuat peringatan AS kepada China sebelumnya, bahwa negara komunis itu bahwa mereka tak lagi menggantungkan kesukaan konsumen AS atas produk-produk impor China guna mendorong perekonomiannya.
Sementara China berkomitmen untuk mendorong berlanja konsumen lebih banyak lagi guna menggeser perekonomiannya dari ketergantungan pada ekspor dalam mendukung pertumbuhan.
Wakil Perdana Menteri China, Wang Qishan mengatakan, kedua negara sepakat untuk menjalin kerjasama membangun sistem finansial yang kuat.
"Untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi masih menjadi prioritas utama," tegasnya.
AS dan China sebelumnya saling berseteru akan berbagai masalah perekonomian. AS kerap kali mengkritik kebijakan China soal mata uangnya yang dinilai tidak fleksibel sehingga mempengaruhi ekspor AS. Masalah proteksionisme juga kerap kali menjadi masalah yang diungkit-ungkit kedua negara.
Padahal China kini tercatat sebagai salah satu negara penting dari AS. China yang memiliki cadangan devisa China kini menjadi pemegang terbesar surat utang pemerintah AS.
(qom/lih)











































