Manufaktur Belum Siap Hadapi Perdagangan Bebas ASEAN-China

Manufaktur Belum Siap Hadapi Perdagangan Bebas ASEAN-China

- detikFinance
Rabu, 29 Jul 2009 14:20 WIB
Manufaktur Belum Siap Hadapi Perdagangan Bebas ASEAN-China
Jakarta - Beberapa pelaku usaha industri manufaktur mengaku belum siap melaksanakan perdagangan bebas ASEAN China, khususnya bagi produk-produk manufaktur yang mulai berlaku pada tahun 2010 nanti.

Dunia usaha mendesak agar pemerintah mempertimbangkan instrumen di luar tarif yang masih dizinkan oleh badan perdagangan dunia (WTO) untuk sebagai penghalang serangan impor produk China.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Kadin sekaligus Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno dalam acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (29/7/2009).

Menurut Benny, para pelaku usaha mendesak agar pelaksanaan perdagangan bebas tersebut diundur atau dilakukan negosiasi ulang, meskipun peluangnya sangat kecil. Untuk itu para pelaku dunia usaha manufaktur mendesak agar pemerintah menyiapkan instrumen non tarif misalnya SNI, isu kesehatan, isu halal dalam membendung dampak tekanan perdagangan bebas ASEAN-China.

"Bentuknya bisa bermacam-macam misalnya masalah isu kesehatan, kehalalan itu bagian dari upaya yang menghambat dari produk China," serunya.

Ia mengatakan pada tanggal 12 Agustus 2009 nanti akan ada pertemuan ASEAN yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan negosiasi di antara sesama negara ASEAN.

Upaya itu menurut Benny bisa dilakukan agar Indonesia mengkaji ulang jangka waktu penurunan atau penghapusan tarif bea masuk khususnya untuk produk-produk yang masuk dalam Normal Track I dan II hingga tahun 2014, termasuk penjadwalan bagi produk-produk yang masuk dalam Sensitive Track (ST) dan High Sensitive Track (HST).

Ia juga menyayangkan terkait pembahasan FTA dengan China beberapa waktu lalu pihaknya tidak dilibatkan, hal ini membuat ketidaksiapan para pengusaha manufaktur dalam negeri seperti industri tekstil, mamin, elektronika, jamu dan lain-lain.

"Secara pribadi kita tidak dilibatkan (ASEAN-China), tapi kalau Australia, Pakistan, India dilibatkan. Dengan Jepang kita sangat terlibat. Kalau dengan Korea kita tidak terlalu terlibat," ucap Benny.

Seperti diketahui dalam ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah ditandatangani pada November 2002, disepakati mengenai penurunan atau penghapusan tarif bea masuk terbagi dalam tiga tahap yaitu:
  • Tahap pertama yaitu early harvest programme (EHP) yaitu penurunan atau penghapusan bea masuk seperti produk pertanian, kelautan perikanan, makanan minuman dan lain-lain, yang dilakukan secara bertahap sejak 1 Januari 2004 hingga 0% pada 1 Januari 2006.
  • Tahap Kedua, yaitu Normal Track 1 (NT 1) dan NT 2. Khusus untuk NT 1 yaitu penurunan bea masuk hingga menjadi 0% sejak 20 Juli 2005 hingga menjadi 2010. Sedangkan untuk NT 2 diterapkan hingga 0% pada tahun 2012.
  • Tahap ketiga adalah sensitive track (ST) dan Highly Sensitive Track (HST), yaitu untuk produk kategori ST penurunan hingga 0%-20% dilakukan mulai 2012 sampai dengan 2017 dan selanjutnya menjadi 0%-5% pada tahun 2018. Untuk kategori HST sampai dengan 0%-50% mulai dilakukan pada tahun 2015.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads