Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perindustrian,Perdagangan dan Koperasi Provinsi Kaltim Yadi Sabiannor kepada detikcom di kantornya Jl Basuki Rahmat Samarinda,Jumat (31/7/2009).
"Nilai kebutuhan sehari-hari yang bisa dibeli masyarakat di perbatasan adalah US$ 1.500. Revisi ditargetkan tuntas November tahun ini," kata Yadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
yang dibahas hingga saat ini.Dalam perjanjian tersebut diatur nilai belanja maksimal 600 ringgit.
"Agar kedua negara tidak merugi, kesepakatan mata uang dalam bentuk dolar Amerika," ujar Yadi.
Di Nunukan (Kalimantan Timur), sebagian besar masyarakat setempat kerapkali berbelanja kebutuhan sembako di Tawau (Malaysia). Selain harga lebih murah dibanding produk sembako sejenis dalam negeri, pemerintah juga hingga saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan sembako bagi masyarakat perbatasan.
"Wajar saja (sering belanja ke Tawau). Pemerintah kan belum sanggup mensuplai maksimal kebutuhan sembako," terang Yadi.
Untuk harga gula pasir misalnya,di Samarinda sebagai ibukota provinsi dijual seharga Rp 6.000 per kg. Harga melonjak hingga Rp 10.000-12.000 ketika dijual di Nunukan.
Masyarakat Nunukan bisa mendapatkan gula tersebut di Tawau lebih murah dari harga di Samarinda. Kendati
masyarakat perbatasan lebih senang berbelanja di Tawau, Yadi tidak sependapat kalau masyarakat setempat tidak bangga produk Indonesia.
"Tidak juga kalau lebih suka produk negara tetangga. Ekspor kita ke Malaysia melalui Tawau juga banyak kok. Kualitas sama saja," pungkasnya.
(lih/lih)











































