Survei itu sendiri melibatkan 14.029 konsumen online dari 28 negara pada kurun waktu 15-29 Juni 2009. Untuk Indonesia, terdapat 501 sampel dari 9.583 sampel dari Asia Pasifik.
"Kepercayaan konsumen di Indonesia melonjak 9 poin indeks sama seperti di Jepang, Korea Selatan dan Hongkong. Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia merupakan yang tertinggi pada Juni 2009," kata Direktur Eksekutif Consumer Research The Nielsen Company Catherine Eddy di kantornya pekan ini.
Catherine menjelaskan, kepercayaan konsumen di Indonesia sangat erat kaitannya dengan tingkat inflasi. Di saat Indonesia mengalami tingkat inflasi yang tinggi atau adanya peningkatan harga bahan bakar yang signifikan seperti pada tahun 2005, maka konsumen cenderung akan bereaksi yang tampak lewat angka kepercayaan yang rendah.
Namun, kata dia, tahun ini tingkat inflasi dapat ditekan sedemikian rupa sehingga merupakan tahun yang baik bagi konsumen ditinjau dari perspektif harga jika dibandingkan dengan tahun 2008, dimana banyak kebutuhan rumah tangga mengalami peningkatan dua digit.
Di samping itu, peningkatan indeks kepercayaan juga ditopang suksesnya pelaksanaan Pilpres Juli 2009 yang berlangsung tanpa insiden berarti. Sebagai hasilnya, kata dia, masyarakat Indonesia merasa percaya diri bahwa stabilitas politik akan berpengaruh positif bagi ekonomi.
"Perolehan tingkat kepercayaan konsumen yang bagus di Indonesia dipengaruhi oleh situasi politik yang stabil, tingkat inflasi yang rendah, tidak adanya kehilangan pekerjaan dalam jumlah yang dramatis, dan tingkat belanja yang baik khususnya terkait Pilpres," jelas Catherine.
Survey Nielsen menunjukkan, untuk masa satu tahun ke depan, 74% responden dari Indonesia menyatakan yakin dengan keuangan kondisi keuangan mereka selama setahun ke depan dan 69% menyatakan yakin dengan prospek lapangan kerja dalam negeri. Namun, hanya sekitar 36% yang menyatakan saat ini merupakan saat yang tepat untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan.
Survei juga menunjukkan, dalam enam bulan ke depan porsi terbesar responden Indonesia atau sebesar 24% menjadikan masalah ekonomi sebagai kekhawatiran terbesar. Namun, persentasenya menurun 1% dibanding hasil survey pada Maret 2009. Masalah yang berikutnya banyak dikhawatirkan adalah keseimbangan kerja/hidup (21%), kesejahteraan keluarga (13%), pendidikan anak (10%).
Masalah kerja sendiri hanya dikhawatirkan oleh 7% dari responde, yang turun dari survei Maret yang sebesar 10%. "Masalah kestabilan politik bahkan hanya dikhawatirkan oleh 6% responden. Jumlah ini sendiri turun dari 8% pada survei Maret," jelasnya.
Catherine melanjutkan, pertumbuhan perdagangan ritel di Indonesia juga mendukung tingkat kepercayaan konsumen. Nilai pasar ritel dalam setahun berdasarkan data Mei 2009 tumbuh sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja iklan pada semester pertama naik 13 persen dengan didominasi oleh iklan pemilu.
"Ini keuntungan perekonomian Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor, namun lebih kepada konsumsi lokal," kata dia.
Meski demikian, meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap situasi ekonomi tidaklah mutlak. Dalam survei tersebut juga disebutkan, sebanyak 47% konsumen Indonesia pada Juni 2009 telah menunda pembaruan teknologi seperti komputer atau seluler, di mana 13% di antaranya akan tetap melanjutkan penundaan pada bulan-bulan yang akan datang dan 34% tidak akan menunda lagi setelah Juni 2009.
Data tersebut, juga menunjukkan masih banyak konsumen yang akan melakukan langkah-langkah penghematan lain. Diantaranya menghemat gas dan listrik dilakukan oleh 46% responden, memangkas pengeluaran telepon oleh 45% responden, mengurangi hiburan luar rumah oleh 42% responden, mengurangi belanja baju baru oleh 38% responden dan mengurangi perjalanan liburan oleh 38% responden.
Meski demikian, Catherine menambahkan, survey ini tidak tidak memperhitungkan dampak peristiwa ledakan bom pada 17 Juli lalu. Meski demikian, menurut dia, peristiwa tersebut tidak membawqa dampak signifikan bagi ekonomi Indonesia.
"Beberapa survei menunjukkan terorisme cenderung menjadi kekhawatiran dari negara tetangga ketimbang Indonesia sendiri. Kalaupun ada pengaruhnya, mungkin lebih ke sektor turisme," kata dia.
(dro/dro)










































