Hal ini disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dalam rapat Paripurna Luar Biasa Nota Keuangan 2010 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/8/2009).
SBY mengatakan ada empat kebijakan utang yang diambil pemerintah untuk menutup defisit tersebut.
- Pertama adalah mengupayakan pinjaman lunak,
- Kedua penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dalam negeri, dan
- Ketiga membuka akses sumber pembiayaan di pasar internasional seperti global bond dan sukuk global.
- Keempat penarikan pinjaman siaga yang telah menjadi komitmen lembaga keuangan internasional dan yang belum dapat direalisasikan di tahun 2009.
"Dalam mengatasi krisis global ini, pemerintah berketetapan untuk tidak menggunakan bantuan dana IMF sebagaimana yang kita lakukan dalam krisis 1998. Pemerintah telah mengupayakan kerjasama pendanaan siaga yang lebih bermartabat dan tetap menjamin kedaulatan ekonomi nasional," tuturnya.
SBY mengatakan defisit RAPBN 2010 sebesar 1,6% dari PDB masih cukup aman dan tepat bagi perekonomian yang masih dalam tahap pemulihan akibat imbas krisis global."Defisit sebesar ini juga aman bagi pelaksanaan program-program pembangunan yang sangat penting," ujarnya.
(dnl/qom)










































