Menteri ESDM: ICP Terlalu Tinggi Bisa Picu Defisit

Menteri ESDM: ICP Terlalu Tinggi Bisa Picu Defisit

- detikFinance
Senin, 03 Agu 2009 18:08 WIB
Menteri ESDM: ICP Terlalu Tinggi Bisa Picu Defisit
Jakarta - Pemerintah bersikukuh asumsi ICP dalam RAPBN 2010 yang ditetapkan sebesar US$ 60 per barel adalah keputusan yang terbaik. Jika menetapkan asumsi ICP terlalu tinggi, justru bisa jadi boomerang bagi pendapatan negara seandainya harga minyak jatuh.

Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (3/8/2009).

"Harga minyak untuk tahun depan US$ 60 per barel. Ini konservatif karena harga minyak tidak menentu," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Purnomo, jika pemerintah menetapkan asumsi ICP terlalu tinggi dalam APBN, maka perhitungan pendapatan negara memang akan tinggi juga. Namun di sisi lain, perhitungan pengeluaran negara pun akan terseret naik.

"Kalau ditetapkan harga minyak US$ 100 per barel, artinya pendapatan minyak tinggi, berarti spending juga tinggi," katanya.

Kondisi seperti ini tentu menjadi labil, terutama jika harga minyak dunia tiba-tiba turun. Karena saat harga minyak turun, maka pendapatan negara juga alan turun. Padahal alokasi pengeluaran negara sudah diatur sedemikian rupa mengimbangi pendapatan negara dengan perhitungan harga minyak yang tinggi.

"Maka yang terbaik menggunakan harga konservatif US$ 60 per barel," katanya.

Sedangkan jika harga minyak justru mengalami kenaikan, maka kelebihan dari pendapatan negara tersebut bisa menjadi windfall profit untuk menutupi defisit.

"Seandainya harga minyak di atas itu, akan jadi windfall profit untuk menutupi defisit," ujarnya.
(lih/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads