Sri Mulyani: Manajemen Ekonomi Dunia Berantakan

Sri Mulyani: Manajemen Ekonomi Dunia Berantakan

- detikFinance
Rabu, 05 Agu 2009 11:20 WIB
Sri Mulyani: Manajemen Ekonomi Dunia Berantakan
Depok - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengkritik perilaku manajemen ekonomi dunia yang berantakan. Perilaku buruk itulah yang menjadi sebab ambruknya ekonomi dunia tahun 2008.

"Betapa berantakannya manajemen ekonomi dunia," kritik Sri Mulyani.

Demikian disampaikan dalam pidato pembukaan acara The 4th MRC Doctoral Journey in Management dengan tema "The New World Order After the Crisis" di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Rabu (5/8/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sri Mulyani mengatakan, salah satu sebab ambruknya ekonomi dunia pada tahun 2008 lantaran penerapan manajemen ekonomi yang tidak sesuai koridor.

"Secara de facto, AS menguasai ekonomi dunia dengan sangat besar. Mesin pertumbuhan ekonomi dunia tergantung pada belanja (spending) AS," ujarnya.

Kondisi timpang tersebut, telah membuat banyak negara cenderung menggantungkan diri dengan AS. Sejumlah negara berebut menggunakan dananya untuk membeli surat berharga AS, termasuk Indonesia.

"Surplus devisa sejumlah negara seperti India, Singapura, Indonesia dan sebagainya malah digunakan untuk membeli obligasi AS, bukannya digunakan untuk membangun infrastruktur," keluh Sri Mulyani.

Kondisi ini, lanjut Sri Mulyani, menyebabkan sistem ekonomi global menjadi tidak seimbang. "Jumlah kemiskinan masih sangat tinggi," ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, globalisasi ekonomi mengharuskan adanya suatu manajemen yang bersifat global pula agar tidak terjadi ketimpangan seperti yang terjadi saat ini.

Dan sampai saat ini, ujarnya, dunia belum mampu menerapkan manajemen ekonomi yang bersifat global. Ia juga mengkritik besarnya gaji para manajemen ekonomi di dunia.

"Gajinya mahal, tapi kerjanya berantakan," ujar Sri.

Kendati demikian, Sri tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Menurutnya, langkah yang harus didahulukan adalah menyusun skema prioritas yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.

"Itu harus ditolong dulu. Bukan cari siapa yang salah, tapi ditolong dulu," ujarnya.

(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads