Produksi Katup Elpiji 3 Kg Terancam Tak Terserap

Produksi Katup Elpiji 3 Kg Terancam Tak Terserap

- detikFinance
Kamis, 06 Agu 2009 13:56 WIB
Produksi Katup Elpiji 3 Kg Terancam Tak Terserap
Jakarta - Para produsen valve (katup) tabung 3 kg khawatir produknya tidak terserap maksimal dalam tender yang akan digelar Pertamina pekan depan. Tender itu dilaksanakan terkait program konversi tabung elpiji 3 kg.

Ketua Umum  Asosiasi  Pabrikan Valve LPG Indonesia (Avindo)  Edwiro Purwadi mengatakan, para produsen khawatir karena harga valve impor  China yang lebih murah dari harga valve dalam negeri.

"Harga katup (valve) berdasarkan Kepmen Perindustrian Rp 15.000, sedangkan  kalau impor Rp 11.000-13.000 per valve," keluhnya di Gedung Depperin, Jakarta, Kamis (6/8/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih mahalnya harga valve tabung elpiji 3 Kg lokal, kata dia tidak terlepas dari harga bahan baku valve tembaga dan kuningan yang mahal di dalam negeri.

"Kami minta kepada departemen untuk tidak izinkan ekspor scrap kuningan dan tembaga," serunya.

Saat ini, kata dia, serapan valve buatan dalam negeri masih 40% dari produksi tabung 3 kg elpiji yang dibuat produsen tabung, sedangkan valve impor masih menguasai hingga 60%. Ia memperkirakan ketentuan kandungan lokal bagi produksi tabung 3 kg bisa membuat serapan valve naik jadi 80% jika efektif dilakukan.

"Dengan adanya TKDN ini otomatis para produsen akan memakai produk dalam negeri, masalahnya bagaimana sosialisasinya keanggotanya, memang Asitab  (produsen tabung) sudah komit pakai valve lokal, tetapi nggak semuanya satu kepala kan," ucapnya.

Dalam tender tabung yang akan digelar Pertamina pada pekan depan setidaknya terlibat 50 lebih produsen tabung. Untuk memenuhi produksi  7 juta tabung 3 kg yang  disuplai oleh para produsen tabung di luar BUMN, sedangkan 3 juta tabung disuplai dari produsen tabung BUMN.

Saat ini kata dia stok  valve dipabrik yang tersedia mencapai 2,5 juta valve, sehingga jika dihitung dari 3 bulan produksi kedepan maka dipastikan akan memenuhi kebutuhan para produsen tabung.

"Sehingga kekhawatiran produk  valve lokal tidak mampu memenuhi itu tidak beralasan," jelasnnya.
 
Untuk itu ia mengharapkan kepada para produsen tabung bisa menyerap produksi valve lokal karena sudah memenuhi tingkat kandungan lokal minimal 40%. Ketentuan ini sangat penting karena dalam setiap produksi tabung harus diperiksa oleh Surveyor. Jika tidak terbukti mengandung kandungan lokal 40% maka tidak akan diberikan sertifikat sehingga tidak bisa dikirim ke Pertamina.

Saat ini terdapat 8 pabrik katup (valve)  LPG 3 Kg yang memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) minimal 40% diantaranya PT Asa Bintang Pratama kapasitas per bulan 200.000 katup, PT Karya Metalindo Unggul 300.000 unit, PT Maju Teknik Utama Indonesia 1,2 juta, PT Metalindo Teratai Putra 700.000, PT Prajamitra Internusa 400.000, PT Sumber Cipta Karya Bakti 600.000, PT Supra Teratai Metal 100.000 dan PT Wahana Multidea Keisha 800.000 dengan total 4,8 juta unit valve per tahun.

(hen/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads