Dampak kenaikan tarif tol terhadap bukan dipatok dari berapa besar kenaikan tarif tol, melainkan diukur porsi bobot tarif tol terhadap kontribusi terhadap inflasi.
Demikian disampaikan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan saat dihubungi detikFinance, Minggu (9/8/2009)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rusman, selama ini bobot tarif tol terhadap terhadap inflasi relatif sangat kecil. Hal ini kata dia sangat tergantung dengan efek kenaikan tol apakah akan menyebabkan dampak ganda (multiplier) bagi sektor lainnya.
Ia mencontohkan setidaknya ada beberapa hal yang bisa menopang kontribusi inflasi dari tol diantaranya penggunaan angkutan barang yang membawa barang yang melewati tol apakah akan menaikan harga barangnya.Selain itu juga dari seberapa besar pengeluaran pengguna kendaraan mobil pribadi sebagai pengguna langsung pasca kenaikan tarif dan sejauh mana kenaikan angkutan umum terhadap kenaikan tarif tol.
"Bagaimana dengan bobot inflasi (tarif tol), sangat kecil sekali," imbuhnya.
Mengenai besaran kenaikan tarif tol yang akan diumumkan pemerintah, lanjut Rusman, tentunya akan mengikuti angka inflasi BPS. Pihaknya tidak bisa memastikan berapa besarannya karena sangat tergantung dari sejak kapan besaran inflasinya dihitung.
Meskipun departemen pekerjaan umum (BPJT) memastikan besaran tarif tol akan dihitung dari besaran inflasi year on year dari bulan Agustus 2007 sampai 2009.
"Itu otoritas dia (Departemen PU) kan inflasi itu data pubik, kita umumkan setiap bulan," katanya
Sebelumnya pihak Jasa Marga yang memiliki beberapa ruas dari rencana 13 ruas tol yang akan naik di 2009, menyatakan tarif tol yang dikelolanya diperkirakan akan naik disekitar angka 15%, meskipun sampai saat ini masih harus menunggu keputusan pemerintah.
(hen/qom)










































