Untuk itu, Evita menyarankan agar kilang baru di Indonesia lebih banyak memproduksi BBM dibandingkan produk turunan minyak mentah lain. Seperti diketahui, STX Pan Ocean Co. Ltd mengajukan tiga syarat untuk masuk konsorsium Banten Bay Refinery yang terdiri dari Pertamina (40%), Oil Refining Industries Development Company (ORIDC) asal Iran sebesar 40% dan Petrofield dari Malaysia sebesar 20%.
Syarat yang diajukan yaitu merubah konfigurasi kilang Bojanegara, Banten Bay Refinery menjadi lebih banyak memproduksi aspal ketimbang BBM. Syarat kedua yaitu, STX meminta porsi kepemilikan 40%. Ketiga, mereka juga berniat untuk mengubah skema pembangunan kilang. Cukup satu train berkapasitas olah 200.000 bph yang bisa di-upgrade menjadi 300.000 bph dengan nilai investasi tidak lebih dari US$ 3 Miliar.
"Dari sisi pemerintah tidak ikut campur karena itu merupakan bagian dari proses b to b di antara mereka. silahkan saja mereka. Tetapi untuk perizinan tentunya harus dari kami. Jadi tidak semudah itu bisa diputuskan," ungkap Evita.
Pertamina telah menandatangani akte pendirian perusahaan PT Banten Bay Refinery dengan ORIDC Iran dan Petrofield, Malaysia. Dalam perusahaan patungan tersebut Pertamina memiliki saham 40%.
Sebelumnya disebutkan penandatanganan akte pendirian perusahaan PT Banten Bay Refinery tersebut telah dilakukan pada Kamis (29/7/2009).
PT Banten Bay Refinery meurupakan perusahaan patungan antara Pertamina (40%) dengan Oil Refining Industries Development Company (ORIDC), Iran (40%) dan Petrofield, Malaysia (20%).
Perusahaan ini direncanakan akan melakukan pembangunan kilang minyak di Bojonegara, Banten dengan kapasitas 150.000 barel per hari pada tahap pertama. Kilang direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2014.
"Rencana pembangunan kilang ini merupakan salah satu langkah Pertamina untuk menjamin ketahanan supply BBM Nasional. Untuk itu kami berharap mendapat dukungan dari pihak-pihak yang terkait," ujar Direktur Pengolahan Pertamina, Rukmi Hadihartini dalam siaran pers tersebut.
Seperti diketahui, rencana pembangunan kilang berkapasitas 300.000 barel per hari itu sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Pada tahap awal, kilang Banten akan dibangun dengan kapasitas 150.000 barel per hari yang mengolah minyak mentah jenis Iranian Extra Heavy Crude sebesar 50% dan Iranian Heavy Crude 50%. Seluruh minyak yang akan diolah ini dipasok ORIDC.
Pembangunan kilang tahap pertama tersebut ditargetkan mulai berlangsung tahun 2010 dengan jadwal produksi tahun 2014. Produk kilang yang didesain menghasilkan gasoline ON 90/95, diesel oil , fuel oil , avtur, elpiji, coke, sulfur, dan petrokimia akan diprioritaskan antara 70-100% buat pasar domestik dan sisanya diekspor sesuai standar Euro IV.
Kilang yang dibangun di atas lahan milik PT Pelindo II di Bojanegara, Banten itu mendapat pasokan gas 110 MMSCFD dari PT PGN Tbk dan PT BAGS dan listrik sebesar lima MW dari PT PLN.
(epi/dnl)











































