Demikian dikatakan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR-RI Jakarta, Kamis (20/08/2009).
"Pemerintah akan menyiapkan dampak positif dan negatif kenaikan harga minyak terhadap APBN," ujar Sri Mulyani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara bulanan harga minyak internasional dalam tahun 2009 cenderung mengalami kenaikan. Jika pada akhir tahun 2008 harga minyak rata-rata mencapai US$ 41,4 per barel maka pada akhir Juli 2009 harga minyak telah mencapai US$ 64,1 per barel," katanya.
Namun, lanjut Sri Mulyani, keseluruhan harga rata-rata minyak tahun 2009 hingga semester I hanya sebesar US$ 51,4 per barel karena menurunnya permintaan global akibat resesi perekonomian yang terjadi pada tahun 2009.
"Pada tahun 2010, dengan perkiraan perekonomian dunia yang makin baik, maka permintaan minyak dunia baik untuk konsumsi ataupun untuk keperluan industri diperkirakan naik dan diperkirakan harga minyak dunia tahun 2010 juga akan meningkat," papar Sri Mulyani.
Lebih lanjut Sri Mulyani mengatakan perkiraan harga minyak sebesar US$ 60 per barel dipandang memadai dan realistis.
"Namun masih terbuka untuk membahas secara mendalam mengenai harga minyak tersebut untuk menghasilkan angka yang terbaik dan realisitis bagi perkembangan perekonomian nasional dan keberlangsungan APBN," tandasnya.
Lifting Minyak
Perkiraan pemerintah mengenai lifting minyak yang sebesar 965 ribu barel per hari (bph) didasari oleh beberapa alasan mengenai pemerintah harus berhati-hati dalam menentukannya. Pasalnya akan sangat sulit mengharapkan lifting pada tahun 2010 lebih besar dari angka tersebut
Sri Mulyani menjelaskan, bahwa terdapat beberapa dasar acuanyakni yang pertama kepastian tingkat produksi blok cepu.
"Jika blok cepu beroperasi dan berproduksi mulai akhir tahun 2009 ini maka maksimalnya akan mencapai 15 ribu sampai 20 ribu bph," jelasnya.
Kedua, pemerintah harus mempertimbangkan penurunan alamiah dari lapangan-lapangan tua sekitar 5 persen dan ketiga, saat ini tidak ada lapangan baru yang bisa untuk menambahproduksi yang signifikan selain blok cepu.
Walapun demikian, sambung Sri Mulyani, pemerintah akan bekerjasama dengan kontraktor kontrak kerjasama migas (KKKS) untuk terus meningkatkan harga minyak.
(dru/qom)











































