Awas, Triliunan Melayang Karena Gulma

Awas, Triliunan Melayang Karena Gulma

- detikFinance
Jumat, 21 Agu 2009 00:24 WIB
Awas, Triliunan Melayang Karena Gulma
Roma - Ini musuh besar yang harus diwaspadai. Kerugian yang diakibatkannya bisa mencapai miliaran. Jika dikonversikan dengan pangan berdasarkan harga sekarang setara dengan 360 juta ton gandum.

Pesan bahaya gulma itu disampaikan Food and Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian di bawah PBB baru-baru ini.

“Proses kerugian yang diakibatkan gulma memang tidak sespektakuler dan sedramatis kerugian diakibatkan oleh pengganggu tanaman lainnya seperti hama dan penyakit lain seperti flu babi, tetapi secara total kerugian yang ditimbulkan gulma jauh lebih besar” kata ahli gulma FAO, Ricardo Labrada-Romero, seperti disampaikan Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin untuk detikfinance, Kamis malam ini atau Jumat (21/8/2009) WIB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahli gulma berasal dari Kuba ini mengemukakan satu contoh gulma Broomrape (Orobanche spp), spesies gulma agresif yang menyerang tanaman kacang-kacangan dan sayuran, dapat menggagalkan panen secara total dan menyebabkan tanah menjadi tidak subur dalam waktu lama.

Saat sekarang menurut Land Care dari Selandia Baru, yang merupakan salah satu organisasi penelitian lingkungan hidup terkemuka, kerugian yang diakibatkan oleh gulma di seluruh dunia mencapai US$95 miliar atau sekitar Rp950 triliun per tahun.

Sementara kerugian yang disebabkan oleh jasad pengganggu lainnya lebih rendah. Sebagai contoh kerugian akibat patogen (penyakit, red) mencapai US$85 miliar per tahun, akibat insekta mencapai US$46 miliar per tahun, sedangkan kerugian disebabkan oleh hewan vertebrata lebih kecil lagi yaitu hanya US$2,4 miliar.

Kerugian yang mencapai US$95 miliar itu jika dikonversikan berdasarkan harga sekarang setara dengan 360 juta ton gandum atau separuh lebih dari perkiraan produksi gandum dunia  tahun 2009.

Dari US$95 miliar itu sebagian besar atau sekitar US$70 miliar diduga kerugian yang terjadi di negara berkembang, akibat pengelolaan gulma yang kurang tepat. (es/es)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads