"Kalau boleh saya katakan memang JoA ini adalah JoA yang terburuk," ungkap Kepala BP Migas R Priyono, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (24/8/2009).
Priyono menilai, sebagai pemilik 45 persen Blok Cepu seharusnya Pertamina juga diperhitungkan dalam setiap keputusan yang dibuat ExxonMobil sebagai operator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jika JoA tersebut akan diubah, Priyono menilai hal tersebut harus dibicarakan diantara mereka karena JoA ini bersifat bussines to bussines.
Hal tersebut dibenarkan, Dirut Pertamina (Persero), Karen Agustiawan. Ia mengakui, selama ini pihaknya memang kurang dilibatkan dalam setiap keputusan yang diambil di Blok Cepu lantaran hanya memiliki saham 45 persen disana.
"Saya lihat JoA untuk pengambilan keputusan memang agak pincang karena disana baru 65 persen, Kita disana 45 persen kalau ditambahin BUMD cuma 55 persen. Jadi untuk capai 65 persen harus ambil dari mereka juga," ungkapnya.
Saat ditanya apakah Pertamina ingin menambah porsi saham disana agar suara mereka diperhitungkan, Karen membantahnya. Menurut dia kepemilikan saham disana tidak perlu diubah, hanya saja Pertamina diberikan hak memberikan suara kepada Pertamina
"Tetap 45 persen, hanya voting right-nya yang diubah," tandas Karen.
(epi/qom)











































