"Pemerintah akan mengatakan secara jujur bahwa prediksi harga minyak adalah salah satu indikator yang paling sulit dilakukan mengingat historisnya selama 3 tahun," ujarnya dalam rapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (24/8/2009).
Dalam paparannya, Sri Mulyani mengatakan prediksi rentang harga minyak dunia sangat lebar yaitu antara US$ 45 sampai US$ 120 per barel sampai 2010. Meski demikian, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak (ICP) di level US$ 60 per barel di 2010.
"Harga minyak trennya itu sangat tidak predictable , memang sulit memiliki confidence yang tinggi meskipun mungkin kisaran antara US$ 60-70 per barel masih sangat acceptable , jadi dalam hal ini kisaran dengan titik tengah US$ 65 per barel bisa saja dipertimbangkan," katanya.
Pada hari ini (24/8/2009) Sri Mulyani mencatat harga minyak mencapai US$ 73,29 per barel. Harga minyak dunia paling tinggi pada 3 Juli 2008 dengan harga US$ 145,29 per barel, kemudian menurun ke level terendah di 22 Desember 2008 yang sebesar US$ 31,41 per barel.
Sri Mulyani juga mengeluhkan masih rendahnya lifting minyak di Indonesia yang masih di bawah target APBN 2009 yang sebesar 960 ribu barel per hari.
"2010 kita mengharapkan akan terjadi perbaikan dengan adanya produksi di Exxon Cepu, tapi ternyata ini tidak berhasil. Jadi yang terjadi kenaikan lifting minyak sangat-sangat minimal dan ini merupakan sesuatu yang terjadi di luar perhitungan harapan optimis kita," tandasnya.Β
(dnl/dro)










































