Demikian disampaikan oleh Ketua Komisi XI DPR Hafiz Zawawi dalam kesimpulan rapat dengan Menteri Keuangan, Deputi Gubernur Senior BI, Bappenas, dan Badan Pusat Statistik (BPS) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (24/8/2009).
"Pertumbuhan ekonomi 2010 kita sepakati sebesar 5,5%," ujar Hafiz.
Namun Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan agak berat untuk mencapai target 5,5% tersebut karena masih rendahnya laju investasi akibat imbas krisis ekonomi global yang terjadi
"Pertumbuihan ekonomi 5% di level internasional dianggap pada level yang agak tinggi. Lalu soal investasi, pengaruh pertama adalah suku bunga, mungkin baru akan pulih di semester II-2009 atau 2010. Jadi kalau pertumbuhan investasi bisa mendekati double digit , kemungkiin pertumbuhan ekonomi naik di atas 5% ada.," tuturnya.
Sri Mulyani juga mengatakan, pemerintah masih belum bisa mengontrol pemulihan ekspor karena kondisi dunia yang masih belum menentu. "Masih ada pandangan yang cukup skeptis terhadap keberlanjutan pemulihan pertumbuhan ekonomi sehingga untuk ekspor diperkirakan tidak terlalu tinggi meskipun ada peluang tumbuh di atas 1% tahun depan," jelasnya.
Sementara Kepala BPS Rusman Heriawan justru mendukung kesepakatan pertumbuhan ekonomi 5,5%di 2010 karena dengan basis pertumbuhan yang rendah di 2009, pertumbuhan ekonomi di 2010 bisa naik lebih tinggi.
"Ekspor misalnya dia tumbuh negatif bergerak sedikit saja dia akan positif. Ini memberikan peluang penciptaan lapangan kerja lebih banyak. Tambahan angkatan kerja tiap tahun 2 sampai 2,4 juta, ada peluang untuk menurunkan pengangguran walaupun tidak besar tapi ada penurunan," tuturnya.
Karena itu menurut Rusman pertumbuhan ekonomi 2010 harus digenjot di atas 5% sehingga penyerapan tenaga kerja bisa setara dengan jumlah angkatan kerja yang ada.
"Kalau 5%, dari 1% pertumbuhan ekonomi bisa serap 400 ribu tenaga kerja, jadi 5% hanya bisa serap 2 juta tenaga kerja, padahal angkatan kerja bisa 2 sampai 2,4 juta, sehingga potensi pengangguran bertambah bisa terjadi," tandasnya.
(dnl/dnl)
