Eksplorasi Migas di Ambalat Harus Diteruskan

Eksplorasi Migas di Ambalat Harus Diteruskan

- detikFinance
Rabu, 26 Agu 2009 09:12 WIB
Eksplorasi Migas di Ambalat Harus Diteruskan
Jakarta - BP Migas menegaskan kegiatan eksplorasi dan produksi yang dilakukan perusahaan-perusahaan Migas di Blok Ambalat  harus terus dilanjutkan, meskipun masih ada masalah perseteruan perbatasan dengan Malaysia.

"Eksplorasi migas disana harus jalan terus," ujar Kepala BP Migas R Priyono dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Selasa (25/8/2009) malam.

Priyono menyatakan, tidak ada alasan yang kuat bagi Malaysia untuk mengklaim wilayah ambalat masuk ke dalam territorial mereka. Hal tersebut diketahuinya setelah ia beberapa kali mengikuti rapat dengan Malaysia mengenai masalah perselisihan perbatasan tersebut. Pada saat itu, Priyono masih bekerja di Ditjen Migas dan menjadi narasumber tim landas continent yang dipimpin Deplu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi saya yakin Malaysia mengada-ada dalam masalah Ambalat," ungkapnya.

Namun Priyono menilai operator-operator blok yang berada di perbatasan yang diklaim negara lain tersebut memang perlu mendapat perlakuan khusus dari pemerintah Indonesia.

"Perlakuan khusus ini diberikan sepanjang mereka juga menunjukkan willingnes atau eagerness untuk melakukan kegiatan ekplorasi dan produksi," kata Priyono tanpa menyebutkan apa perlakuan khusus yang dimaksud.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyarankan agar kegiatan eksplorasi minyak dan gas (migas) di blok Ambalat dilaksanakan setelah adanya kejelasan garis batas antara Indonesia dan Malaysia di wilayah itu.

Meskipun secara prinsip Pemerintah tidak melarang kegiatan eksplorasi di Blok Ambalat mulai dilakukan. Namun, demi melindung investasi ada baiknya para investor yang sudah memiliki izin eksplorasi menanti paling tidak sampai ada kejelasan mengenai garis batas di Blok Ambalat.

Seperti diketahui, Pada 1990, Pertamina menyerahkan kontrak Blok Ambalat kepada ENI Italia, sedangkan konsesi Ambalat Timur diberikan kepada Chevron. Saat itu tidak ada protes dari Malaysia soal pengoperasian blok yang diperkirakan mengandung 62 juta barel minyak dan 348 miliar kaki kubik gas bumi tersebut.

Namun belakangan Malaysia mengklaim dua blok tersebut sebagai blok ND6 dan ND7 serta mengklaim sebagai wilayah laut mereka yang baru. Malaysia menyerahkan eksplorasi minyak di Ambalat kepada Shell (Belanda) bersama Petronas Carigali Sdn Bhd (Malaysia).

Kontrak Chevron di Blok East Ambalat sendiri akan habis  pada 2010 dan sementara lapangan aster, Blok Ambalat yang di kelola ENI diperkirakan baru akan berproduksi minyak pada tahun 2010. ENI bahkan sudah meminta dukungan keamanan dari pemerintah Indonesia untuk pengembangan lapangan Ambalat.

Beberapa waktu lalu,  Priyono juga telah merekomendasikan perpanjangan kontrak Chevron yang akan habis di Blok East Ambalat pada 2010 mengingat wilayah tersebut merupakan daerah strategis untuk Indonesia.
 
"Perpanjangan kontrak otoritas pemerintah tapi BP Migas akan merekomendasikan perpanjangan kontrak selama empat tahun," jelas Priyono Jakarta, Senin (1/6/2009).
 
Terkait letak lapangan yang berbatasan dengan Malaysia, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro juga pernah mengimbau agar tidak ada kekhawatiran terkait hal tersebut.

"Ambalat adalah bagian dari wilayah NKRI karena itu sebetulnya wilayah kita di klaim mereka karena mereka bisa klaim wilayah Sipadan dan linggitan, ini tidak bisa," tegas Purnomo di Jakarta, Jumat (17/4/2009).
 
Bahkan Purnomo mengakui telah menolak permintaan dari  pihak Malaysia agar wilayah tersebut dijadikan sebagai wilayah operasi bersama.
(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads