"Rencana pembangunan pelabuhan internasional di Bojanegara ditunda dulu. Kelihatannya akan dijadikan pelabuhan Pertamina," ujar Menneg BUMN Sofyan Djalil di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2009) malam.
Semula, lahan seluas 5.000 hektar di Bojanegara itu akan dijadikan pelabuhan internasional. Namun berdasarkan hasil studi terkini, kawasan garis pantai di Bojanegara itu tidak layak untuk dijadikan pelabuhan internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu, ujar Sofyan, Pelindo II tidak akan melanjutkan rencana pembangunan pelabuhan internasional di Bojanegara.
"Mungkin pindah ke tempat lain. Tapi saat ini belum dibahas lagi," ujarnya.
Rencananya, Sofyan mengatakan, kawasan tersebut akan dialihkan penggunaannya untuk keperluan pelabuhan Pertamina. BUMN minyak itu memang sedang berencana membangun kilang bersama Oil Refining Industries Development Company (ORIDC) Iran dan Petrofield, Malaysia.
Ketiganya menandatangani Akte Pendirian Perusahaan PT Banten Bay Refinery dengan kepemilikan saham Pertamina (40%) dengan, ORIDC (40%) dan Petrofield (20%). Banten Bay direncanakan akan melakukan pembangunan kilang minyak di Bojonegara dengan kapasitas 150.000 barel per hari pada tahap pertama.
Kilang yang mendapat pasokan gas 110 MMSCFD dari PT PGN Tbk dan PT BAGS dan listrik sebesar lima MW dari PT PLN ini, direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2014.
"Sejalan dengan pembangunan kilang tersebut, Pertamina bisa menggunakan lahan ini untuk membangun pelabuhan untuk bongkar muat," ujar Sofyan.
Sayangnya, Sofyan belum dapat menjelaskan lebih detil soal itu. Ia juga belum bisa memastikan apakah Pertamina akan melakukan pengambilalihan lahan ini.
"Untuk saat ini belum akan diambil alih oleh Pertamina," ujarnya.
(dro/qom)











































