"Kalau memang manajemen Exxon Mobil parah sekali, bisa saja kita minta Pertamina jadi operator," ungkap Kepala BP Migas R Priyono usai menghadiri acara penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas di Gedung Patra Jasa, Jakarta, Jumat (28/8/2009).
Namun menurut Priyono, pemberian sanksi kepada Exxon Mobil diberikan secara bertahap sebelum membawa masalah ini ke abitrase Internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahap awal, Priyono mengaku telah memberi ultimatum berupa pemulangan para pejabat Exxon Mobil di Cepu ke negara asal jika produksi blok ini kembali molor dari jadwal. "Siapa yang duduk disana bisa kita suruh pulang karena negara punya sovereignty (kedaulatan) yang besar," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Priyono membantah kalau keterlambatan tersebut juga disebabkan penetapan target produksi awal blok Cepu sebelum tahun 2010 yang terlalu dipaksa oleh pemerintah.
"Exxon Mobil memang punya rencana produksinya pada tahun 2012, namun pemerintah minta cepat dan mereka sudah menyanggupinya," ungkapnya.
Priyono menambahkan, saat ini BP Migas masih menunggu komitmen Exxon Mobil untuk segera memproduksi minyak. " Mereka sedang berusaha kuat. Jadi kita tunggu hingga akhir bulan," tandasnya.
(epi/ang)











































