"Sekarang ini sepi dibanding tahun lalu, tidak tahu juga alasannya kenapa. Mungkin banyak yang malas karena banyak aturan pelarangan pemberian parsel," keluh Angga ketika ditemui detikFinance di Jakarta, Sabtu (29/8/2009).
Menurutnya, penurunan penjualanya mencapai hingga 50 persen jika dibandingkan pekan pertama ramadhan tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai harga penjualan, parsel yang ditawarkan sangat bervariasi, yaitu untuk makanan berkisar antara Ro 450.000-700.000 untuk,sedangkan untuk barang pecah belah sekitar Rp 1-1,5 juta.
Menurutnya, harga-harga tersebut masih bisa berubah disesuaikan dengan keinginan si pemesan. Jumlah produksi parsel per hari ditentukan oleh jumlah pesanan dan barang yang laku dijual.
"Jika stok hampir habis maka langsung diproduksi kembali,"jelas Angga.
Angga sendiri belum bisa memprediksi keuntungan untuk tahun ini karena baru akan diakumulasikan pada akhir bulan Ramadhan ini.
Lain halnya dengan Gede, pedagang asal Bali yang juga berjualan parsel di sekitar kawasan Cikini. Ia sudah bisa memperkirakan keuntungannya selama bulan ramadhan dengan cara melihat omset harian.
Menurutnya, keuntungan yang diperolehnya per hari bisa mencapai Rp 3-5 juta dengan penjualan perhari sekitar 100 item.
"Sekarang ini banyak orang yang masih lihat-lihat. Tetapi diharapkan pada 10 hari menjelang lebaran, penjualan akan meningkat," harap Gede.
(nia/ang)











































