Demikian hal itu dikemukakan oleh PGN Hendi Prio Santoso di sela konferensi pers di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (31/8/2009).
"LNG untuk Jawa Barat itu konsorsium dengan Pertamina dan PLN, sekarang sudah mencapai tahapan penunjukan konsultan yang akan mengkoordinasi semua kegiatan proyek," ujarnya.
Kegiatan proyek yang akan dilakukan antara lain pengadaan floating storage serta pembangunan jetty tempat bersandarnya floating storage tersebut.
Saat ini, pihaknya juga sedang meneliti kondisi perairan Jawa Barat dan Sumatera Utara dan kondisi kedalaman laut juga tingkat fluktuasi ombak. Menurutnya, semua hal itu akan mempengaruhi nilai investasi yang harus dikeluarkan perseroan.
Jika kondisi perairan relatif tenang dan kedalaman air di sekitar dermaga cukup, maka belanja modal atau capital expenditure (capex) yang diperlukan bisa lebih kecil. Sekali bersandar, floating storage tersebut akan terus menempel selama 10-15 tahun tergantung pasokan gas yang tersedia.
"Tapi kalau kedalaman air tidak cukup maka harus dibangun di tengah laut, belum lagi harus pasang pipa dan kerahkan patroli. Jadi bisa lebih besar capex-nya," imbuhnya.
Dengan begitu, pihaknya belum bisa menentukan besaran investasi yang diperlukan dalam proyek tersebut.
"Fase yang sedang berjalan dimulai dari Agustus ini yang akan menentukan biaya investasi. Nilainya akan keluar begitu konsultan selesai lakukan survei fisik perairan," ungkapnya. (ang/dnl)











































