Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan mengaku telah melakukan kunjungan ke Norwegia pekan lalu untuk berdiskusi dengan pihak Statoil.
"Waktu ke norwegia, kami ketemu Statoil. Kami ingin Natuna dikembangkan. Mereka (Statoil) kan berpengalaman dalam mengelola lapangan yang memiliki kandungan CO2 tinggi, yang merupakan karakteristik Natuna," ujar Karen di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (31/8/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami siapkan orang untuk melihat proyek-proyek besar Statoil. Jadi saat Natuna akan dikembangkan, kami sudah siap,"jelasnya.
Dari pertemuannya dengan Statoil, imbuh Karen, Pertamina juga mendapatkan bantuan technical services untuk blok Cepu.
"Meskipun tidak punya stake di Cepu namun mereka bersedia membantu pertamina," tandasnya.
Terkait pengembangan blok Natuna, Karen menjelaskan saat ini pihaknya masih membahas term and condition (TNC) dengan pemerintah. Term and condition yang disepakati tersebut akan dijadikan sebagai acuan untuk menyeleksi partnernya di lapangan tersebut. Calon partner yang akan diseleksi masih berjumlah delapan perusahaan.
Seperti diketahui, blok Natuna D Alpha memiliki cadangan gas sangat besar yakni hingga 46 triliun kaki kubik, tapi 70 persen cadangan gas itu mengandung CO2. Kandungan CO2 yang tinggi itu membuat pengolahannya memerlukan teknologi yang ekstra.
Adapun delapan perusahaan yang saat ini tengah mengikuti seleksi partner Pertamina adalah ExxonMobil Corp, Total SA, Chevron Corp, StatOil, Royal Dutch/Shell, China National Petroleum Corp. Petronas, dan Eni SpA.
(epi/qom)











































