“Jadi kalau ke domestik ya proyek ini kelihatannya akan mundur,” ungkap Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2009).
Purnomo menyatakan, jika seluruh gas tersebut dialokasikan untuk domestik, maka harus dipastikan terlebih dahulu sumber pendanaannya.
Sebab jika gas dialokasikan ke domestik, maka kucuran dana dari Jepang sebesar US$ 3,7 miliar untuk pengembangan upstream (hulu) dan downstream (hilir) proyek ini kemungkinan tidak akan terealisasikan sehingga harus dipikirkan sumber pendanaan lainnya.
“Jangan sampai dibangun pabrik pupuk, pembangkit listrik, dan Panca Amara Utama (PAU) tetapi pendanaannya tidak jelas. Jadi mesti konkrit,” ungkapnya.
Meskipun saat ini sudah ada perbankan nasional yang sudah menyatakan kesiapannya untuk memberikan pendanaan, kata Purnomo, namun bank-bank tersebut masih harus melakukan uji kelayakan terlebih dahulu selama tiga bulan terhadap proyek ini.
“Bank mandiri sudah menyatakan siap, tetapi itukan butuh sindikasi perbankan. Semuanya masih liquid , mereka butuh sekitar 3 bulan untuk feasibility study yang detil,” ungkapnya.
(epi/dnl)










































