"Pak Menteri sudah kasih lihat draftnya. Mudah-mudahan minggu ini," kata Kepala BP Migas R Priyono di Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (1/8/2009) malam.
Menurut Priyono, sejak bulan lalu, pihaknya sudah mengirimkan rekomendasi kepada Menteri ESDM untuk menyetujui POD yang telah disampaikan Inpex Masela Ltd,.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyono mengakui, Dalam POD tersebut juga telah diputuskan kalau proyek ini akan menggunakan LNG floating terminal.
Sebelumnya, pemerintah memang serius mengkaji tiga opsi untuk pengembangan sisi hilir (downstream). Opsi pertama, membangun kilang di Pulau Saumlaki, Kepulauan Tanimbar. Dengan opsi ini, gas akan dialirkan dari sumur ke kilang melalui pipa bawah laut sepanjang 150 kilometer. Kedua, membangun kilang terapung. Dan ketiga membangun kilang di Darwin, Australia.
"Jika nanti dari studi ada opsi lain yang ekonomis selain floating, itu masih bisa berubah. Tapi kalau sekarang fix konsepnya floating LNG karena pada 2016 sudah harus delivery,β jelasnya.
Adapun POD yang diajukan Inpex tahun lalu menyebut, jika membangun kilang terapung, proyek ini butuh investasi sekitar US$ 19 miliar, dimana untuk pengembangan sektor hulu US$ 16 miliar, dan hilir US$ 3 miliar. Cadangan blok Masela diperkirakan mencapai 10 triliun kaki kubik.
(epi/qom)











































