"Kami akan berupaya melakukan diskusi dengan para buyers supaya bisa ada reschedule , kemudian kami bisa coba kerja sama dengan BP Migas untuk how actually kita mengatasi itu," ujar Head of Country BP Indonesia, Nico Kanter di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2009).
Nico menjelaskan, negosiasi tersebut akan dilakukan dengan pembeli asal Cina, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. “Kami akan negosiasi dengan tiga-tiganya yang kami punya obligasi,” ungkap Nico.
Nico menjelaskan saat ini pihaknya sudah mengirimkan tiga kargo dari Tangguh ke Fujian, Korea, dan Cina serta dua kargo kondensat ke spot market . “Yang dari kami sendiri tiga, swapt dari Bontang dan Arun 6 kargo,” jelasnya.
Hal senada disampaikan BP Vice Communcation and External Affair Ngurah Kresnawan. Ia menjelaskan pihaknya akan berusaha melakukan negosiasi dengan para pembeli agar jadwal pengiriman tersebut dijadwal ulang.
“Ini akibat adanya shutdown pada train 2 pada Juli lalu, diharapkan dalam beberapa hari bisa restart up lagi sedangkan train 1 yang pada Agustus lalu shutdown diharapkan Oktober sudah restart up ,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BP Migas R Priyono menjelaskan, pengurangan jumlah pengiriman dari lapangan Tangguh dari 56 kargo menjadi 16 kargo disebabkan mundurnya jadwal commisioning dan kerusakan pada kilang tersebut.
Target produksi gas Tangguh tahun ini 52.162 bbtu (143 bbtu/d). Produksi kondensat 455.000 barrel (1.245 bopd). Rencana total pengapalan LNG di tahun 2009 sebesar 16 kargo.
Sebelumnya, Priyono pernah menjelaskan, Tangguh memiliki kontrak pengiriman sebanyak 56 kargo dimana satu kargo berisi sekitar 150.000 m3. Rinciannya adalah 17 kargo ke Fujian China, Posco 8 kargo, Sempra 19 kargo, dan K-Power 12 kargo.
Proyek Tangguh memiliki kontrak jangka panjang untuk memasok 2,6 juta ton LNG per tahun selama 25 tahun ke terminal regasifikasi Fujian di China, 1,15 juta ton per tahun selama 25 tahun kepada K-Power dan Posco di Korea Selatan, dan kontrak fleksibel untuk memasok hingga 3,7 juta ton per tahun selama 20 tahun ke terminal regasifikasi LNG Sempra di California, Amerika Selatan.
(epi/dnl)











































