Demikian hal itu dikemukakan oleh Sekretaris Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) M Said Didu di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (11/9/2009).
"Revitalisasi pabrik gula kita terlambat. Dari plafon kredit yang disiapkan total Rp 2 triliun baru terpakai sedikit," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, meski tahun ini plafon kreditnya ditingkatkan, dengan berbagai kendala yang ada maka penyerapannya tidak maksimal.
"Masalahnya bermacam-macam, ada proses tender yang lama dan segala macam," ungkapnya.
Pemerintah berencana merevitalisasi pabrik gula di PTPN II, VII, IX, X, XI dan XIV. Hal itu dilakukan dalam rangka memperbarui pabrik gula lama sehingga bisa beroperasi lebih maksimal.
Plafon kredit yang didapat sejumlah perusahaan plat merah itu didapat dair beberapa bank BUMN dan swasta. Namun, Said mengatakan, pemberi kredit terbesar masih dipegang oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
(ang/qom)











































